Adab bercanda

laught

Suatu sore anak-anak saya sedang main tebak-tebakan dengan kawan2nya. Dan cukup menggembirakan juga kalau pertanyaan-pertanyaan pada permainan mereka tsb adalah seputar sejarah Islam dan pelajaran2 keislaman.

Contoh pertanyaan2 mereka: “Hayoo sholat isya berapa rokaat? “ “Siapa sahabat Rasulullah yang menjadi pengganti setelah Nabi meninggal?” ” Nabi apa yang dimakan ikan paus?” “Nabi apa yang kena penyakit kulit?”

Nah ditengah-tengah pertanyaan-pertanyaan mereka tentang nabi, saya nyeletuk sambil menggendong Eros, anak saya yg berusia 2 thn dan bertanya ke mereka : ” Nabi apa yang monyong hayooo?”

Sekilas mereka terbengong-bengong dan tersenyum sambil mencari jawabannya, hingga akhirnya mereka tidak bisa menjawab pertanyaan tsb dan geleng-geleng serempak.

Lalu saya jawab : “Nah bibirnya si Eros nih !!! Hahahahahaha…”

Dan mereka semua ikut tertawa terbahak-bahak sambil ngeledek si Eros yg terbengong-bengong krn belum mengerti apa-apa. Sekejap setelah itu, tiba-tiba kaki saya tersandung standar motor dan berdarah ! Meskipun nampak seperti kecelakaan kecil yg biasa, menurut saya Allah SWT menegur saya lewat berdarahnya kaki saya krn candaan saya tentang kata-kata “Nabi” tsb.

Tersadar diri saya akan makna kata Nabi yg merupakan sebutan mulia untuk orang2 mulia pilihan Allah…sementara saya ‘memplesetkannya’ dengan maksud bercanda dgn anak2, dan rupaya hal itu tidak di ridhoi oleh Allah. Saya langsung memohon ampun dan beristigfar perlahan.

Tertawa dan bercanda memang bukan hal yg dilarang, sebatas hal tsb adalah hal yang benar dan tidak merupakan dusta. Rasulullah pernah mencontohkan beberapa sikap bercanda yg teladan.

Dari Anas radliyallaahu ‘anhu diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki menemui Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, bawalah aku jalan-jalan”. Beliau berkata : “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta”. Laki-laki itu pun menukas : “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Beliau berkata : “Bukankah setiap unta adalah anak ibunya?” (HR. Abu Dawud)

Atau dalam riwayat lain, ketika ada seorang nenek tua bertanya pada Nabi SAW : ” Ya Rosulullah, apakah aku bisa masuk syurga ” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab : “Tidak ada perempuan tua yang masuk surga”, lalu nenek itu menangis. Kemudian rasul meneruskan  perkataannya, “Di Surga nanti umur manusia berkisar antara 30-35 tahun (dimudakan lagi) muda,cantik dan tampan kembali”.
Baru nenek-nenek itu tersenyum senang .
(HR. Tirmidzi)

Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Wallahu’alam bishowab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s