Saudariku peniti karir, mari berfikir

“Nah ini baru suami yang bertanggung jawab, kalau bukan karena ekonomi kita mah mending di rumah pak, ngurus anak!” begitulah celetukan anak buah saya yang di ikuti kata “betul pak…iya pak!” oleh banyak kawan2nya yang hadir di saat itu. Session perkenalan saya sebagai atasan baru yang akan bertanggung jawab thd pekerjaan mereka.

Lalu teringat akan beberapa kawan perempuan  saya yang juga sudah mempunyai kedudukan yang cukup bagus pada level management di berbagai perusahaan dan mereka sulit melepaskan diri dari “habitat” diluar rumah mereka sebagai wanita karir untuk fokus menjadi ibu rumah tangga, entah karena takut kehilangan mata pencaharian, status sosial atau social networking yang selama ini mereka jalin.

Pada tingkatan level apapun, wanita pekerja di luar rumah tentulah memiliki keluhan yang sama yaitu lelah mengurusi 2 kewajiban sekaligus; kewajiban dunia kerja dan kewajiban seorang istri/ibu dalam keluarga.  Karena sejatinya memang kodrat seorang wanita adalah menjadi pemimpin bagi rumah tangga suaminya, guru dalam rumah tangga bagi anak-anaknya untuk mencetak generasi-generasi yang sholeh/hah dan berguna bagi bangsa dan agama.

Sementara kodrat dan tugas seorang ayah adalah mencari nafkah bagi keluarga dan menjadi imam (pemimpin) bagi keseluruhan aktifitas keluarga yang di kontrol operasionalnya oleh fungsi seorang ibu.

Terbersit keheranan yang mendalam akan perjuangan kaum feminis; Gender Egality (kesetaraan gender). Apa yang perlu di setarakan? Status sosial? Fungsi dalam keluarga ? Kesetaraan hak? Kesetaraan kewajiban ?

Tampaknya orientasi materialistis duniawi lebih mendominasi kepentingan kaum feminis yang berkedok membela kaum perempuan. Paradigma bahwasannya keberadaan wanita di rumah adalah sebuah ketertinggalan dan bentuk penghilangan hak perempuan untuk berkiprah di luar rumah telah menjadi amunisi yang ampuh. Peranan ibu rumah tangga dianggap bagai katak dalam tempurung hanya berurusan dengan DAPUR, SUMUR & KASUR! Wanita dipaksakan untuk menyamai pria dalam berbagai hal, apabila tidak berperan selayak pria, dianggap lemah dan perlu diperjuangkan hak-haknya. Aneh!

Islam tidak melarang wanita dalam menuntut ilmu dan berperan diluar rumah, namun peranan wanita amatlah penting sebagai pilar rumah tangga, pilar negara! Terbentuknya  rumah tangga yang sakinah, mawaddah & warrahmah, kemuliaan dunia guna pembentukan generasi penerus, manusia baru yang lebih baik (jasmani & rohani).

Perbedaan anatomi wanita dan pria dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi ini demikian indahnya diatur dalam Islam.  Perpaduan dan pembagian tugas antara istri dan suami, ayah dan ibu bagi keluarga dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad -Shalallahu Alaihi Wassalam-. Manusia mulia kekasih Allah.

Bisa dibayangkan kalau satu perusahaan semua jajaran managerial semuanya adalah manager keuangan…lalu siapa yg akan bertugas mengurusi produksi? Atau sebaliknya. Atau terdapat overlap pekerjaan yang membuat tidak fokusnya fungsi lain yg terindikasi over job. Tidak adanya pembagian fungsi yang menyeluruh dalam sebuah perusahaan maupun organisasi dapat membuat bangunan perusahaan dan organisasi tsb akan runtuh perlahan. Demikian juga pembagian peran yg ada dalam rumah tangga. Baik suami yang berjenis kelamin laki-laki dan istri yang berjenis kelamin perempuan mempunyai fungsi yang berbeda untuk saling melengkapi bangunan keutuhan rumah tangga.

Begitu indah dan idealnya pembagian fungsi antara suami dan istri tersebut di atur dalam Islam berdasarkan petunjuk Allah swt, tuhan pencipta manusia, yang tentu lebih mengerti akan seluk beluk makhluk ciptaanNya.

Saudariku para muslimah peniti karir…mari berfikir tentang orientasi hidup. Dunia kah yang hanya sebentar saja? atau Kekalnya Akhirat ? Allah swt memberikan banyak kelebihan bagi kaum wanita dengan segala kemudahan memasuki syurgaNya dan menggapai ridho’ illahi.

Saudariku…para muslimah pencari karir, selain perbedaan anatomi & fungsi dalam rumah tangga, sesungguhnya tidak ada perbedaan hak dan kewajiban antara mukmin laki2 & mukmin perempuan di mata Allah. Semuanya sama, setara dan mempunyai keutamaan masing2 sesuai fungsinya sebagai manusia.

Saudariku… muslimah peniti karir kerja di dunia, renungkanlah untuk kembali ke rumah…fokuslah untuk mendidik anak-anak menjadi generasi faqih dan qur’ani karena Allah swt telah menjanjikan syurga yang kekal, abadi dibanding semua yg semu di dunia ini. Ilmu dari pendidikan tinggi yang kau dapat selayaknya engkau berikan bagi anak-anakmu dengan penuh cinta setiap hari.

Saudariku…muslimah peniti karir,  Al Ummu Madrosatul u’la…sebaik-baik madrasah/sekolah adalah Ibu.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Wallahu’alam bishowab…

3 thoughts on “Saudariku peniti karir, mari berfikir

  1. Assalamu’alakum Waromatullohi Wabarokatuh.

    Saudaraku, mungkin inti yang bisa saya cerna adalah jangan berlebihan dalam mengerjakan sesuatu. Laki-laki yang hanya mengutamakan karir dan melupakan keluarga pun tidak berimbang hidupnya. Begitu juga dengan perempuan

    Sering kita mendengar dalih bahwa jumlah perempuan lebih banyak dari laki-laki. Seandainya pada suatu bangsa semua wanitanya menganggur, maka sumber daya manusianya bisa lemah. Perempuan dari sisi rumah tangga punya tanggung jawab, dari segi sumber daya manusia pun punya tanggung jawab. Sama dengan laki-laki, walaupun porsi dan perannya dapat berbeda.

    Inilah makanya wanita boleh berkarir dengan ijin suaminya.

    Mudah-mudahan jangan dijadikan salah pengertian. Segala sesuatu yang dikerjakan berlebih-lebihan akan menimbulkan ketidak keseimbangan yang dapat menyebabkan timpangnya kehidupan.

    Itu berlaku untuk laki-laki maupun perempuan, dalam hal karir atau usaha.
    Solusinya, bisa pekerjaan atau usaha sudah kelewatan merepotkan maka delegasikanlah pada orang-orang yang bisa dipercaya. Jangan ditangani sendiri, karena itu akan merusak kesehatan, kehidupan dan hubungan antar-manusia, pikiran, dan juga mental.

    Mudah-mudahan bermanfaat.
    Wassalamu’alakum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s