Who Moved My Cheese?

Baru saja sebuah conference sekaligus kegiatan team building saya ikuti di perusahaan tempat saya bekerja. Dengan membahas satu buah buku berjudul “Who Moved My Cheese”, karangan Spencer Johnson yang menjadi best seller internasional dan menginspirasi banyak orang dalam berpandangan tentang sebuah pelajaran yg bernama “CHANGE” atau “Perubahan”.

Ada sepasang tikus (Sniff & Scurry) yang agresif,  pemberani dan sigap dalam mengantisipasi sebuah perubahan dan sepasang kurcaci (Hem & Haw) yang selalu berhati-hati dalam berfikir dan melangkah bahkan salah satu dari kurcaci tsb cenderung takut akan sebuah perubahan dan selalu berfikir yg paranoid akan sebuah perubahan.  Mereka tinggal bersama menikmati Cheese (keju) besar bersama. Hingga suatu saat keju mereka habis, tanggapan mereka berempat berbeda-beda.  Sebelum keju besar tsb habis, sepasang tikus tsb sudah menemukan keju baru di tempat baru tanpa menghiraukan keju besar tsb, mereka bisa mengantisipasi dan “mengendus” akan habisnya keju yg dikonsumsi oleh mereka berempat. Sementara 2 orang kurcaci masih berkutat di area keju besar yang sudah habis, mereka saling menyalahkan dan berteriak “Who moved my cheese ???” (siapa yang memindahkan keju saya ???).

Kita berubah atau kita di rubah. Intinya seperti itu. Bisa jadi kita berubah karena terpaksa di rubah oleh keadaan yg memaksa kita berubah. Atau kita berubah karena melihat bahwa perubahan adalah sesuatu yg dibutuhkan oleh diri kita.

Bagi siapapun yg membaca buku tsb pastilah mempunyai berbagai pandangan yang berbeda dalam menganalogikan bentuk Cheese atau keju tsb dalam kehidupan mereka masing-masing. Mungkin ada yg menganggap buku ini “gue banget” karena keju yg dimaksud adalah pekerjaan mereka, bisnis mereka, investasi mereka, saham mereka, property mereka dll yg bersifat duniawi. “Wah pekerjaan gw saat ini ibarat cheese station C neh, gw musti mulai mengendus pekerjaan baru buat antisipasi” kira-kira seperti itulah analogi dari cheese dari seorang karyawan yg merasa tidak save dan comfort dengan pekerjaannya sekarang sehingga dia memutuskan untuk mencari pekerjaan baru sebagai periuk nasi dan titian karir barunya.

Namun bagi saya, cheese atau keju yg digambarkan dalam buku dan video di atas adalah “dunia ini dan seluruh isinya” atau bisa juga  “waktu/kesempatan hidup di dunia” yg kita punya hingga saat ini. Saya pernah menjadi Hem & Haw dalam memaknai dan menjalani hidup, sangat enjoy dengan hidup yg ada tanpa menghiraukan berbagai aktifitas ibadah yg semestinya menjadi bekal di akhirat kelak. Kalaupun saat ini menjadi Scurry & Sniff yang antusias untuk mempersiapkan kehidupan yg kekal kelak namun godaan dan nafsu dunia sbg kodrat manusia terkadang membuat saya terlena dan sedikit tergelincir melupakan ibadah atau minimal malas untuk menyiapkan bekal akhirat.  Keimanan turun dan tergelincir lagi, apabila saat itu tiba membaca alqur’an dan berdzikir adalah kenikmatan yg membawa diri ini kembali kepada keindahan yg hakiki.

Alqur’an memang sebenar-benarnya pegangan hidup yang luar biasa baik secara lahir dan bathin saya rasakan. Tiada hari tanpa membaca “surat cintaNya”…kira-kira itulah yang saya rasakan karena memang sudah kepincut dan jatuh hati dengan kegiatan tilawah dan tadabbur Alqur’an. Setelah proses tadabbur, biasanya hati saya akan merasa plong dan lega dan penuh harap  akan ridho’ Allah swt.

WHEN YOU CHANGE WHAT YOU BELIEVE, YOU CHANGE WHAT YOU DO

Ketika saya merubah keyakinan saya, hal itu akan merubah apa yang akan saya lakukan. If you think you can, then you can…(Insha Allah).

Saya mencoba menularkan “endusan keju” ini kepada keluarga saya karena Allah yang maha menyayangi meminta kita untuk menjaga diri dan keluarga kita dari api neraka jahanam. Saya minta anak-anak saya untuk tidak lalai dan tepat waktu dalam menjalankan sholat lima waktu sebagai pilar Islam, menghafal alqur’an dan kegiatan2 lain yg dicontohkan oleh Rasulullah.  Agar mereka bisa ‘mengendus’ bahwa dunia ini…keju besar ini…adalah semu!

Sementara syurga keju ada pada kehidupan kekal abadi yg ada setelah kematian kita masing-masing sebagai pintu gerbang menuju  alam akhirat kelak.

Wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s