Siang dan Malam-malamku

Terdiam, terpaku dan hanya membisu.

Kelelahan fikiran membuat saya hanya bisa melakukan 3 hal di atas. Biasanya setelah anak-anak tertidur di malam hari yang menyisakan lantunan ayat-ayat alqur’an di Radio Rodja yang mengiringi suara “klik-klik” mouse yang tak menentu entah ke website mana akan dituju.

Bukan hanya jenuh namun juga lelah. Menghantui fikiran, perasaan dan tubuh saya di bulan ini. Beberapa cobaan hidup dan adukan perasaan sabar berbalut keyakinan bahwa Allah mencintai saya dalam keadaan apapun selama saya mengingatnya sebagai sang Khaliq, pencipta saya. Karena dia Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada Ummatnya.

Mestinya kelelahan dan kejenuhan tak membuat diri saya jauh dari Allah, mestinya malah semakin dekat. Tapi entah kenapa…setan memang luar biasa sabar menggoda dan menggelayuti fikiran dan hati saya, terkadang membuat saya khilaf dan mengurangi jatah waktu saya untuk menabung bagi indahnya akhirat. Semuanya karena saya sudah menyalahi kodrat.

“Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.” (QS. Al-Furqaan: 47)

Tidak seperti ayat di atas, kodrat saya sudah terganggu selama beberapa bulan ini. Malam saya bukan hanya untuk tidur, namun juga untuk berusaha mencari rizki. Dan siang saya bukan hanya untuk berusaha, namun juga untuk tidur membayar hutang.😀

Penyelewengan kodrat inilah yang membuat turunnya kualitas beribadah saya. Saya rasakan itu. Kangen rasanya terbangun rutin jam 3.00 pagi lalu bertahajjud memeluk malam yang sebagian telah pergi menyisakan kesan mendalam bahwa saya ini hanya debu. Meskipun kerap saya lakukan kegiatan ini di kantor kala malam hari, namun kualitasnya saya rasakan masih dibawah  sebelum kodrat itu terdzolimi. Kangen rasanya merasakan pahitnya mulut saat shaum senin kamis, dikala teman-teman menikmati nikmatnya makan siang, saya malah menikmati kedekatan yg tiada tara bersama sang Khaliq bersama keikhlasan dan kesabaran menahan lapar dan dahaga.  Dan beberapa ke-kangenan lain yang kerap menghantui saya dalam bisu, lelah dalam diam.

Siang tadi, pada keindahan Dhuha. Saya mengadu, berkeluh kesah dan memohon bimbingan dan pertolongan Allah. Tapi kali ini tanpa tetes air mata, entah kenapa. Mungkin suasana dan lingkungan kerja yang membuat tertahannya tetes ini jatuh. Tanpa mengurangi makna permohonan saya, keluhan itu saya ajukan. Betapa saya ingin mengisi Ramadhan 1431 H kelak dengan kegiatan yang lebih berharga dibanding tahun lalu, meniduri tempat sujudku dengan memeluk alqur’an yang lelah saya baca. Betapa saya ingin berbuat lebih bagi orang tua. Betapa saya ingin bersedekah lebih banyak lagi bagi yang membutuhkan. Betapa saya ingin memberikan lebih bagi istri dan anak-anak saya. Betapa saya ingin menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama istri dalam waktu dekat. Dan beragam keinginan lain yang bersumber pada dibukanya pintu rizki yang lebih bagi diri saya, ditempat lain.

Amien ya Rabb…

Kiranya cukup inilah tulisan di akhir maret yang kurang produktif untuk berbagi. Iya, bulan ini hanya ada 1 khazanah yang saya bagi tanpa tulisan lain selain tulisan ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s