Pelangi, seni illahi

“Subhanallah…indah banget pelanginya, Pa” kata Wanda, anak saya yang berumur 9 tahun sambil mendekap kedua tangannya di dada. Sementara adiknya, Eros & Warna berteriak-teriak ke rumah teman2nya yang lain agar menyaksikan keindahan pelangi sore itu, namun teriakannya sia-sia dan menyisakan kita berempat yang tertegun menyaksikan aneka warna-warni illahi yang terbentuk dengan sangat indah dan rapih di langit.

Saya juga bergumam perlahan melihat keindahan itu, melihat betapa Maha Indahnya seni yang diciptakan oleh Allah swt melalui berbagai proses yang juga di ciptakan oleh Allah agar bisa diterima oleh akal fikiran kita sebagai manusia. Allah swt menciptakan hujan, angin, matahari dan bentuk2 lain sebagai tools dan beberapa proses untuk terciptanya pelangi.

Pelangi tidak serta merta ada, tidak dengan tiba-tiba ada di udara dan menghiasi birunya langit. Pelangi juga tidak berubah warna dan urutannya.

Pelangi juga tidak melulu warna merah, atau kuning atau hijau selalu. Pelangi selalu berwarna itu dgn urutan warna yang sama di tiap suasana, di tiap waktu sejak jaman kakek moyang kita Nabi Adam AS turun ke bumi mengisi dan menjadi khalifah di bumi ini, hingga saat kita ada saat ini menggantikannya menjadi khalifah, saat ini. Pelangi selalu konsisten sejak dahulu kala.

Pelangi, sama seperti bentuk, proses dan sistem kehidupan disekitar kita. Diciptakan dengan bentuk penyesuaian dan proses yang bisa diterima oleh akal fikiran kita, sebagai manusia.

Allah swt menciptakan sistem tata surya, sistem cuaca, sistem reproduksi makhluk baik hewan dan tumbuhan dan sistem-sistem lain yang membuat decak kagum karena tingkat keilmuwan yang maha tinggi yang terdapat dalam setiap sistem. Saya hanya bisa berdecak kagum dan mengucap Subhanallah…Allahu Akbar. Maha suci Engkau ya Allah, Maha besar, Maha Jenius, Maha Hebat dan Maha Segalanya bagi Engkau ya Allah azza wa jalla.

Saya belai ketiga anak saya dalam lamunan dan kekaguman yang tiada henti menatap indahnya pelangi, perlahan waktu bergeser dan lembayung kian memerah pertanda bergantinya waktu. Terima kasih ya Allah atas hikmahmu sore ini, kemudian saya beranjak untuk mengakhiri kegiatan sore sambil berkata kepada ketiga anak saya… “yuk sayang kita masuk ke rumah, ayoo semuanya dadah ke pelangi…dadaaah pelangiiii”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s