Ironi Engkong Maman, Ironi Kita…

Pagi hari di sabtu yang indah, saya beserta keluarga menikmat pagi di teras rumah kami. Menikmati satu teko teh hangat berteman kue lupis yang berlapis cairan gula merah yang benar-benar membuat pagi itu menjadi pagi yang sempurna bagi kebersamaan kita sekeluarga di teras rumah.

Tak lama berselang ditengah canda tawa kami dan kelakar saya kepada anak-anak yang sangat menikmati kebersamaan bersama saya dan mamanya, tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah kegiatan seseorang di sudut depan rumah kami, tempat sampah. Tempat sampah itu berjarak sekitar 7 meter di sebrang rumah kami dan disitu terlihat seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi kami sejak 5 tahun lalu kami pindah ke rumah baru kami di Bekasi.

Terlihat sibuk Engkong Maman (bukan nama sebenarnya) menyapu bersih sampah-sampah hasil kegiatan rumah tangga beberapa rumah di blok lokasi rumah kami. Biasanya Engkong Maman mengambil sampah setiap 2 hari sekali dan membuangnya ke suatu tempat pembuangan akhir sampah di daerah kami.

Di usianya yang lanjut sekitar 70 tahun, terlihat fisiknya sudah mulai lemah dalam melakukan pekerjaan sehari-harinya tersebut, terkadang kegiatannya itu digantikan oleh seseorang yang lebih muda, entah siapa…mungkin rekan atau saudaranya. Lalu saya teringat akan meninggalnya istri Engkong Maman beberapa bulan lalu yang mengakibatkan dirinya sekarang seorang diri di rumahnya…”Apakah dia sudah sarapan?” begitu gumam saya dalam hati untuk kemudian dengan spontan saya panggil beliau. “Engkong…mampir dulu sini napa, ngeteh dulu mumpung masih anget nih, Kong” sapa saya menirukan logat betawi masyarakat sekitar, diluar komplek perumahan saya.

Terlihat loyo dengan jalan yang agak gontai, Engkong Maman menghampiri kita sekeluarga yang sedang menikmati pagi itu dengan canda tawa, sekejap anak-anak saya terdiam dan istri saya menyambut dengan senyum kedatangan Engkong Maman ke teras rumah kami dengan menaiki tangga teras satu persatu.

“Makasih banyak nih pak, numpang ngeteh yaa”

“Iya silahkan, Kong” jawab saya sambil menyiapkan teh,  menawarkan kue lupis dan memperhatikan nafasnya yang masih tersengal karena kelelahan yang dialaminya di pagi itu.

Lama kami terlibat bermacam-macam pembicaraan yang berkisar pada kegiatannya mengangkut sampah di daerah kami, sampai pada akhirnya saya terperanjat pada satu pernyataan beliau akan satu hal.

“Jadi…dulu komplek ini dan sampe depan sono noh… trus daerah yang sono juga itu semua tanah kepunyaan saya, pak!” tegas beliau sambil menunjuk beberapa sudut arah di luar komplek kami yang membuat saya tertegun, benar-benar tertegun!

“Nah sekarang yang kesisa cuman rumah saya doang ame tempat pembuangan sampah komplek ini, entu juga dikenain pajek ama aparat, masak saya buang sampah di tanah saya dikenain duit segala. Tapi yaah, saya terima aje dah”

Masya Allah! Jadi dulu Engkong Maman ini orang yang kaya raya ! Dia menjelaskan kekayaannya berupa tanah, sawah dan rumah yang dimilikinya beserta istri dan anak-anaknya yang dulu dimilikinya. Dia jelaskan juga kemana perginya uang-uang hasil jerih payahnya dari menjual tanah dan pertaniannya yang bermuara pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang telah berhasil menipu dirinya dan keluarganya sehingga sampai saat ini beliau terpuruk dan jatuh miskin hingga sekarang, bahkan belum bisa menunaikan ibadah haji karena ulah broker haji yang melarikan uangnya. Dijelaskan juga kepada kami sekeluarga yang mendengarkan dengan tertegun dan tidak bisa berkata apa-apa bahwa kematian istrinya juga diakibatkan karena kemiskinan yang dideranya sehingga dia tidak sanggup lagi untuk berobat dan membiayai istrinya ke rumah sakit.

Saya, istri dan anak sulung saya yang sudah cukup mengerti diskusi kami hanya tertegun, bahkan istri saya terlihat berkaca-kaca menatap Engkong yang terlihat sangat menikmati teh hangat kami sambil bercerita panjang lebar tentang nasibnya yang begitu ironis. Orang yang begitu kaya dan terpandang karena kekayaannya secara ironis mengalami perubahan nasib yang begitu besar dipenghujung usia yang semestinya dinikmati dengan santai bersama cucu-cucunya.

Akhirnya pembicaraan kami terhenti dikala beliau merasa sudah cukup kenyang dan nafasnya tidak lagi tersengal. Di iringi hirupan terakhir pada teh hangat yang kami sediakan, Engkong Maman mohon pamit. Kami hanya bisa tertegun memandang berlalunya gerobak dan si Engkong meninggalkan suara gesekan gerobak yang kian menjauh meninggalkan teras rumah kami.

Ironi Engkong Maman sama persis dengan Ironi Negeri Kita, Indonesia.

Indonesia adalah negara terkaya di dunia, bentangan sumber daya alam yang ada di atas bumi maupun di dalam bumi menumpuk dan dengan sangat mudah bisa dinikmati oleh penduduk negeri yang masuk dalam jajaran negara miskin dan nomor 3 negara terkorup di dunia.

Buta? Entahlah…andai saja para pejabat negeri ini amanah dalam menjalankan roda pemerintahan, tentulah rahmat Allah yang sangat besar berupa “tanah surga” dimana tanah, kayu dan batu jadi tanaman (istilah dalam lagu Koes Plus) akan dapat dinikmati oleh seluruh penduduk negeri dan tidak perlu menjadi “pembantu” dan “pengemis hutang” dari negara lain.

Yang berbeda adalah, yang tersisa dari Engkong Maman hanyalah rumah dan tempat pembuangan sampahnya, sementara sumber daya alam yang Allah berikan kepada negeri Indonesia masihlah berlimpah sampai saat ini, sangaaat berlimpah! Gemah ripah loh jinawi. 

Engkong Maman telah dibodohi dan ditipu oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab yang menyebabkan dirinya jatuh miskin, begitu juga dengan seluruh penduduk negeri ini utamanya para pejabat sejak jaman kemerdekaan dulu.

Tapi lebih ironis lagi, belum habis semua kekayaan ini…kita sudah miskin!

Bangsaku…Ayo bangkit !!! Menjadi pintar dan berani menentang “penipuan” bangsa ini! Negeri kita adalah yang terindah dan terkaya di dunia, anugerah dari Allah bagi kita semua, selayaknya kita manfaatkan dengan semaksimal mungkin dan menanggalkan status miskin bagi penduduk Indonesia.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang pada diri mereka. ” (QS Ar Ra’d:11)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s