Friends

Dulu sering saya mempermainkan sahabat-sehabat sekerja saya sewaktu sedang berkumpul bersama entah di dalam mobil ataupun di kantor. Dengan wajah (pura-pura) sedih saya meminta perhatian sahabat-sahabat saya itu untuk mendengarkan sesuatu yg akan saya bicarakan. “Gue mau resign…” lalu mereka terdiam untuk selang beberapa lama kemudian bertanya dengan penuh semangat “ah yang bener lo?!!! Kapaan ?!! Udah final nih? ke perusahaan mana?” begitulah pertanyaan-pertanyaan mereka bertubi-tubi dengan penuh harap akan jawaban saya dan kesedihan yang terlihat di wajah mereka. Sementara setelah itu dengan tenangnya saya akan menjawab “ yah gue mau resign…entah kapan, suatu saat khan gue pasti resign, elo juga khan? hahahaha” saya tertawa terbahak-bahak karena sudah berhasil membuat mereka panik dan sedih sesaat. Puas rasanya. Dan itu saya lakukan beberapa kali di beberapa kesempatan kepada kumpulan sahabat yg berbeda. Puas rasanya.

Tapi sekarang…

Saya baru menyadari makna wajah sahabat-sahabat saya yang berhasil saya permainkan, kesedihan mereka bukanlah isapan jempol atau hipokritas belaka. Mimik sedih dan wajah itu berganti tempat dan berganti wajah…semuanya ada di wajah saya. Sekarang!

Betapa sebuah perpisahan itu adalah sesuatu yg berat meski kita sudah mempersiapkan untuk itu. Betapa sebuah ikatan persahabatan adalah lem yang super erat mengikat hati manusia yang saling mengakui bersatunya hati mereka dalam sebuah kebersamaan. Betapa lingkungan yang baru dan lebih baik tidak menjamin akan kita dapatkan persahabatan yang sama di lain tempat untuk waktu yang singkat. Saya yakin kita akan tetap bisa bersilaturahmi lewat berbagai media modern saat ini. Namun proses dan perjalanan persahabatan yg sudah dan sedang  jalani saat ini menjadi sebuah catatan yang tidak mudah untuk dilupakan bahkan terbuang.

Bersama sahabat-sahabat saya, waktu hidup yang singkat ini terasa panjang saat senyum kita bersatu, tawa kita membahana, air mata kita menetes bersama dan semilir udara membawa imajinasi kita melayang menikmati kebersamaan yang tak ternilai harganya.

Tanda tangan…

Itu semua berawal dari sebuah tanda tangan sebagai awal perubahan proses hidup saya yang sudah rutin selama 10 tahun saya jalani selama ini.

Oksigen Cikarang yang tersenyum ramah dan menyelimuti paru-paru saya  sesaat saya tiba di sana, akan tergantikan.  Asap PT. Mulia Ceramics melalui cerobong “merah putih” yang gagah dan terbiasa menyembul dan akrab dengan awan lalu jatuh bersama jutaan partikel dalam udara, tidak akan terlihat lagi. Fly over satu arah hasil buah tangan pemuda pemudi negeri yang kaya ini sebagai media pembeda tinggi dan rendahnya kendaraan yang berjalan, akan terlupakan. Semuanya akan berubah, setelah beberapa sentimeter tulisan tangan saya di goreskan sebagai bukti eksistensi saya secara legal dalam sebuah dokumen, sebuah surat perjanjian menjadi pegawai baru di perusahaan lain.

Bismillah…saya coretkan tanda tangan berbekal imajinasi bahwa 10 tahun yang lalu hingga saat ini akan berubah. Dan semuanya berubah! Dan memang harus berubah.

1 menit di masa mendatang jauh lebih berarti dibanding 1000 tahun di masa lalu.

Kodrat manusiawi memang harus berubah. Berubah atau dirubah. Keduanya sama bentuk meski berbeda proses. Namun perubahan itu tidaklah mudah disaat ada kaitan ruh  yang turut campur berlumuran kasih sayang ke sela-sela cerobong mini sel dalam hati kita. Erat mengikat, sedih menjerat. Mendefinisikan warna warni arti sahabat.

Saya ingat artikel Aa’ Gym yang pernah saya baca disini bahwa memilih teman sama dengan memilih masa depan. Dan memilih lingkunganpun sama pentingnya dengan memilih teman dan masa depan. Semoga lingkungan pekerjaan yang baru nanti membawa keberkahan dalam langkah-langkah karir saya yang baru, yang seyogyanya adalah juga ritual ibadah dalam bentuk yang lain, yaitu bekerja sebagai karyawan untuk menghidupi keluarga.

Sekarang, saatnya saya memilih raut wajah bagi diri saya sendiri. Mestikah memasang raut sedih karena akan berpisah dengan kehangatan jiwa yang tak lekang bersarang di hati? Atau memasang raut bahagia karena mendapatkan limpahan rizki dan amanah baru berupa jenjang karir yang lebih baik di perusahaan lain? Apapun raut wajah yg semestinya, di hati ini sudah terpatri raut kesedihan hati yang tidak bisa dibohongi karena kehilangan hangatnya persahabatan, selayak kehangatan udara di relung jiwa.

2 thoughts on “Friends

  1. kisah persahabatan itu memang selalu indah.. saya pun merasakan beratnya perpisahan dgn sahabat, namun bagaimanapun memang harus begitu.. jika bukan saya yang meninggalkan mereka, maka suatu saat mereka yang akan meninggalkan saya.. karena selalu bersama itu hampir mustahil.. setiap orang punya tujuan hidup masing2 yang akan dilalui dgn cara yg berbeda.. meski begitu, persahabatan yg telah terjalin akan tetap abadi, sejauh apapun raga terpisah, kenangan selalu menghubungkannya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s