Day One…

Wajah Ibu Muslimah tegang di siang itu, sudah terkumpul 9 orang anak yang akan menjadi muridnya. Harapannya sangat besar akan adanya 1 anak lagi sebagai muridnya agar syarat 10 murid terpenuhi untuk memulai kelas baru. Saya bisa merasakan keinginannya yang besar untuk menjadi guru bagi mereka, mereka yang tergolong sebagai anak-anak marjinal di pesisir sumatera yg berada pada pertengahan nasib…bekerja sebagai kuli di perusahaan timah atau sekolah.

“Semestinya hari ini adalah hari pertama saya menjadi guru pak” begitulah kira-kira dialog Ibu Muslimah kepada kepala sekolah dengan mata yang terus memandang ke arah lain mencari 1 anak tambahan sebagai muridnya, lalu pada scene lain di tampilkan sosok seorang Harun sebagai murid terakhir yang melengkapi kebahagiaan akan impian Ibu Muslimah, menjadi guru.

Ba’da magrib, perasaan saya kurang lebih sama seperti Ibu Muslimah. Tegang, bingung, berat sekaligus merasakan sebuah tantangan baru yang dengan senang hati akan saya jalani 1 jam mendatang. Menjadi guru.

Beberapa hari yang lalu Ketua RT kami menunjuk saya sebagai pengganti sementara dari ustadz yang biasanya rutin mengisi pengajian/halaqoh anak-anak di komplek perumahan kami. Saya merasa senang menerima tawaran tersebut dengan alasan bahwa ilmu-ilmu yang saya terima selama ini akan “tersalurkan” melalui kegiatan tersebut. Memang secara rutin saya juga mengadakan pengajian keluarga di rumah dgn jama’ah 3 orang wanita tercantik di dunia, 2 orang anak saya & seorang istri. Dalam pengajian rutin keluarga itu saya juga belajar menjadi pendakwah layaknya seorang ustadz yang rutin mengisi pengajian dgn urutan2 agenda yg mirip.

Kali ini, guru bagi anak-anak tetangga saya. Perasaan sayapun jelas jauh berbeda dibandingkan menjadi guru bagi keluarga.

Teras rumah sudah di sulap oleh istri saya lengkap dengan tikar sederhana dan kitab suci Alqur’an dan materi buku “50 Kisah Islami” sebagai buku panduan saya untuk berkisah kepada mereka. -/+ 70% isi kandungan alqur’an adalah berupa kisah, oleh karena itu menurut saya kisah-kisah adalah media yang bagus dalam menanamkan nilai-nilai agama melalui proses pengajian.

Ilmu ALLAH yang Maha Berilmu akan saya sampaikan kepada anak-anak tersebut, ilmu itu harus saya tularkan dan ajarkan kepada siapapun yg membutuhkan, otherwise…ilmu itu yg akan menuntut saya di akhirat nanti kalau sampai mereka mubazir ada dalam fikiran saya tanpa ada kegiatan untuk menyampaikan kepada ummat muslim yg lain. Apalagi generasi muslim yg lucu dan imut-imut seperti mereka.

Saya awali dengan tadarus bersama surat Al Baqarah secara bergantian, 1 anak 3 ayat sambil membetulkan bacaan mereka. Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan kisah dari buku “50 Kisah Islami” yang sudah saya siapkan dengan tema “kejujuran” seorang Abdullah bin Mas’ud.

Saya sampaikan kepada mereka bahwa kejujuran itu sangat penting, lalu menanyakan kepada mereka…“ayo jujur yaaa, siapa yang sholatnya masih belum 5 waktu?”. Semuanya tunjuk tangan dan langsung memberikan alasan kenapa belum 5 waktu, sebagian besar alasan mereka karena kesiangan waktu sholat subuh, ketiduran sewaktu Isya  ( lucu sekali melihat mimik polos mereka dalam beralibi dgn alasannya masing-masing😀 )

Saya jelaskan betapa pentingnya sholat sebagai ibadah inti seorang muslim dalam keadaan apapun juga, tanpa alasan! Setelah itu mereka saling berkomitmen utk sholat subuh berjama’ah di masjid esok hari. Dan stelah tulisan ini saya buat, sebagian dari mereka benar-benar memenuhi janjinya utk sholat bersama saya di masjid meski dlm keadaan terkantuk-kantuk. Hihihi…lucu sekali😀

Baik Ibu Muslimah dan para pejuang-pejuang pendidikan dan dakwah, semuanya mempunyai satu kesadaran untuk “menularkan ilmu dan kebaikan” kepada anak didik mereka. Ini yang membuat saya iri, saya tidak ingin ilmu ALLAh yg saya terima ini mubazir ,saya juga ingin menularkan hal itu kepada anak-anak orang lain dan bukan hanya kepada keluarga. Tentunya ini sebagai bagian dari perjalanan pencarian ridho ALLAH dalam hidup saya.

Selang beberapa jam setelah pengajian usai, ketegangan bukannya mereda malah bertambah besar seiring permintaan pak Ustadz kepada saya yang meminta untuk terus menggantikan peran beliau sebagai guru ngaji anak-anak. Sementara beliau akan fokus kepada pengajian remaja dan kelompok dewasa.

“So,  this is day one…there will be another days” gumam saya. Terima kasih ALLAh atas kesempatan yg berharga ini.

Ternyata semuanya bukanlah sementara, tapi baru saja dimulai. Menjadi guru, menanamkan tauhid dan menebar pesona kebaikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin, sebuah amanah bagi saya, jembatan rohani menuju ridho illahi.

Ya ALLAH tambahkanlah ilmuku, pintarkanlah ucapanku dalam menyampaikan titahMu, mudahkanlah urusanku di dunia ini dan terutama di akhirat nanti dan terimalah amal ibadahku. Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s