Saudariku peniti karir, mari berfikir

8 02 2010

“Nah ini baru suami yang bertanggung jawab, kalau bukan karena ekonomi kita mah mending di rumah pak, ngurus anak!” begitulah celetukan anak buah saya yang di ikuti kata “betul pak…iya pak!” oleh banyak kawan2nya yang hadir di saat itu. Session perkenalan saya sebagai atasan baru yang akan bertanggung jawab thd pekerjaan mereka.

Lalu teringat akan beberapa kawan perempuan  saya yang juga sudah mempunyai kedudukan yang cukup bagus pada level management di berbagai perusahaan dan mereka sulit melepaskan diri dari “habitat” diluar rumah mereka sebagai wanita karir untuk fokus menjadi ibu rumah tangga, entah karena takut kehilangan mata pencaharian, status sosial atau social networking yang selama ini mereka jalin.

Pada tingkatan level apapun, wanita pekerja di luar rumah tentulah memiliki keluhan yang sama yaitu lelah mengurusi 2 kewajiban sekaligus; kewajiban dunia kerja dan kewajiban seorang istri/ibu dalam keluarga.  Karena sejatinya memang kodrat seorang wanita adalah menjadi pemimpin bagi rumah tangga suaminya, guru dalam rumah tangga bagi anak-anaknya untuk mencetak generasi-generasi yang sholeh/hah dan berguna bagi bangsa dan agama.

Sementara kodrat dan tugas seorang ayah adalah mencari nafkah bagi keluarga dan menjadi imam (pemimpin) bagi keseluruhan aktifitas keluarga yang di kontrol operasionalnya oleh fungsi seorang ibu.

Terbersit keheranan yang mendalam akan perjuangan kaum feminis; Gender Egality (kesetaraan gender). Apa yang perlu di setarakan? Status sosial? Fungsi dalam keluarga ? Kesetaraan hak? Kesetaraan kewajiban ?

Tampaknya orientasi materialistis duniawi lebih mendominasi kepentingan kaum feminis yang berkedok membela kaum perempuan. Paradigma bahwasannya keberadaan wanita di rumah adalah sebuah ketertinggalan dan bentuk penghilangan hak perempuan untuk berkiprah di luar rumah telah menjadi amunisi yang ampuh. Peranan ibu rumah tangga dianggap bagai katak dalam tempurung hanya berurusan dengan DAPUR, SUMUR & KASUR! Wanita dipaksakan untuk menyamai pria dalam berbagai hal, apabila tidak berperan selayak pria, dianggap lemah dan perlu diperjuangkan hak-haknya. Aneh!

Islam tidak melarang wanita dalam menuntut ilmu dan berperan diluar rumah, namun peranan wanita amatlah penting sebagai pilar rumah tangga, pilar negara! Terbentuknya  rumah tangga yang sakinah, mawaddah & warrahmah, kemuliaan dunia guna pembentukan generasi penerus, manusia baru yang lebih baik (jasmani & rohani).

Perbedaan anatomi wanita dan pria dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang saling melengkapi ini demikian indahnya diatur dalam Islam.  Perpaduan dan pembagian tugas antara istri dan suami, ayah dan ibu bagi keluarga dan hal ini dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad -Shalallahu Alaihi Wassalam-. Manusia mulia kekasih Allah.

Bisa dibayangkan kalau satu perusahaan semua jajaran managerial semuanya adalah manager keuangan…lalu siapa yg akan bertugas mengurusi produksi? Atau sebaliknya. Atau terdapat overlap pekerjaan yang membuat tidak fokusnya fungsi lain yg terindikasi over job. Tidak adanya pembagian fungsi yang menyeluruh dalam sebuah perusahaan maupun organisasi dapat membuat bangunan perusahaan dan organisasi tsb akan runtuh perlahan. Demikian juga pembagian peran yg ada dalam rumah tangga. Baik suami yang berjenis kelamin laki-laki dan istri yang berjenis kelamin perempuan mempunyai fungsi yang berbeda untuk saling melengkapi bangunan keutuhan rumah tangga.

Begitu indah dan idealnya pembagian fungsi antara suami dan istri tersebut di atur dalam Islam berdasarkan petunjuk Allah swt, tuhan pencipta manusia, yang tentu lebih mengerti akan seluk beluk makhluk ciptaanNya.

Saudariku para muslimah peniti karir…mari berfikir tentang orientasi hidup. Dunia kah yang hanya sebentar saja? atau Kekalnya Akhirat ? Allah swt memberikan banyak kelebihan bagi kaum wanita dengan segala kemudahan memasuki syurgaNya dan menggapai ridho’ illahi.

Saudariku…para muslimah pencari karir, selain perbedaan anatomi & fungsi dalam rumah tangga, sesungguhnya tidak ada perbedaan hak dan kewajiban antara mukmin laki2 & mukmin perempuan di mata Allah. Semuanya sama, setara dan mempunyai keutamaan masing2 sesuai fungsinya sebagai manusia.

Saudariku… muslimah peniti karir kerja di dunia, renungkanlah untuk kembali ke rumah…fokuslah untuk mendidik anak-anak menjadi generasi faqih dan qur’ani karena Allah swt telah menjanjikan syurga yang kekal, abadi dibanding semua yg semu di dunia ini. Ilmu dari pendidikan tinggi yang kau dapat selayaknya engkau berikan bagi anak-anakmu dengan penuh cinta setiap hari.

Saudariku…muslimah peniti karir,  Al Ummu Madrosatul u’la…sebaik-baik madrasah/sekolah adalah Ibu.

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,…Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)

Wallahu’alam bishowab…





Turn OFF TV, Turn ON Live!

26 01 2010

Hari ini, sudah berjalan beberapa tahun sejak pemberlakuan STOP menonton acara TV di rumah. Bahkan di Amerika, gerakan “Turn OFF TV” sudah lama digalakkan oleh masyarakat disana karena lebih banyak dampak psikologis negatifnya terhadap perilaku masyarakat dan perkembangan anak-anak. Selengkapnya bisa di cek ke sini atau ke sini

Saya dan istri sepakat untuk tidak menonton acara TV lokal dan internasional di rumah kami. Kami ingin membiasakan diri  dan anak-anak kami untuk tidak tergantung pada acara TV sebagai hiburan dan media mencari pengetahuan.

Berawal dari kekhawatiran saya pribadi dengan berbagai tayangan acara TV lokal yg berdampak negatif terhadap anak-anak, saya mulai mencari cara untuk bisa menghilangkan kebiasaan menonton TV bagi istri dan anak-anak saya di rumah. Istri saya suka Sinetron, anak2 saya suka nonton film dan hiburan lain. Dan ironisnya, dulu anak & istri saya kerap mengkonsumsi acara infotainment dan berita2 dengan tampilan audio & visual yg cukup vulgar (pembunuhan, tabrakan, pengeroyokan, perselingkuhan, perkelahian, mayat2 korban yg di sorot dgn jelas dll) dirumah bersama-sama sebagai media informasi dan menghabiskan waktu luang di rumah.

Saya ingat, saya pernah meminta seorang pelayan restoran mengganti channel TV krn menyetel berita pembuhuhan di acara berita siang dgn tampilan vulgar krn memang mengganggu selera makan saya, dan beberapa pengunjung yg kebetulan datangpun setuju untuk mengganti channel TV dgn tampilan yg lebih ringan. Tampaknya etika berita acara TV tidak terkontrol dengan baik jam penayangannya.

Selain beberapa concerns di atas, kekhawatiran utama saya adalah dampak TV terhadap perkembangan anak-anak saya nantinya. kekhawatiran saya bukanlan isapan jempol paranoid yg berlebihan, krn survey juga membuktikan bahwa anak2 yang terlalu sering menonton TV akan memiliki penurunan tingkat kecerdasan dan kreatifitas. Karena kegiatan “menonton” yg bersifat pasif menyebabkan kurang terpicunya kreatifitas dan kecerdasan anak secara psikologis, bahkan kerap anak-anak yang kecanduan TV akan lebih sering menolak ajakan dan perintah orang tuanya secara spontan. Hal ini tentu mengganggu hubungan antara anak dan orang tua sehingga tugas orangtua dalam mendidik anak akan bertambah sulit.

Di sisi lain orangtuapun harus lebih jeli mem-filter bentuk tontonan anak dan memberikan sterilisasi informasi yg diterima agar anak tidak terjebak dalam opininya yang masih lugu. Pertanyaannya…apabila kita masih mengharap TV sebagai media informasi dan pengetahuan yg dominan, apakah kita bisa menjamin waktu kita untuk mendampingi anak menonton TV dan mem-filter tontonan mereka setiap saat? Masih banyak alternatif media lain untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan bagi kita dan anak2…buku, koran, majalah dan pergaulan masyakarat di sekitar. Atau banyak juga alternatif VCD/DVD film2 khusus anak2 sebagai hiburan yg lebih bisa di kotrol jenis tontonannya bagi anak2 kita untuk dikonsumsi.

Apa yang saya rasakan setelah beberapa tahun hidup tanpa acara TV adalah kecenderungan interaksi kita (orang tua) dan anak jadi terjalin lebih bagus dan anak kerap jadi lebih ‘membutuhkan’ kita sebagai partner dalam berdiskusi maupun belajar. Selain itu kreatifitas merekapun juga tidak tumpul dan yang paling mencolok adalah mereka semuanya jadi gemar membaca! Subhanallah…

Iya, membaca adalah perintah Allah swt, tuhan yang kami sembah melalui utusannya Muhammad Rasulullah SAW. Iqro…bacalah! demikianlah ayat pertama alqur’an dan perintah pertama yang turun kepada baginda Rasulullah untuk selanjutnya diteruskan kepada ummatnya untuk di ikuti. Membaca membuat imajinasi, wawasan, kreatifitas berfikir dan stimulasi otak anak2 kita jadi lebih terasah. Dan utamanya kebiasaan membaca akan bisa melahirkan generasi pembaca dan pengkaji ayat-ayat kitab suci Alqur’an sebagai pedoman hidup kami selaku ummat muslim.

Dampak positif yang jauuuh lebih besarpun kami dapatkan setelah kami matikan TV beberapa tahun lalu. Salah satu dampaknya adalah hubungan rumah tangga yang lebih harmonis krn kami lebih memilih bercengkrama bersama untuk mengisi waktu luang tanpa suara & tampilan TV di rumah. Saya kerap mendongeng buat anak dan memiliki waktu yg lebih banyak dengan istri untuk saling sharing berbagai hal. Selain itu saya dan istri jadi lebih intens memperbaiki ibadah dan mendalami berbagai hal yg berkenaan dgn keagamaan sebagai pilar kehidupan keluarga kami untuk terwujudnya keluarga yang lebih sakinah, mawaddah wa rohmah.

Rasanya lelah hati ini merasakan cueknya pemerintah sebagai pembuat regulasi & pengawas serta peran pelaku industri media TV untuk membenahi tayangan TV agar lebih berdampak postifi thd masyarakat utamanya generasi cilik dan pemuda sebagai generasi penerus. Iya…apalagi kalau bukan urusan rating, duit dan sensasi.

Akhirul kalam… Kita diberkahi akal dan hati untuk mempertimbangkan segala hal bagi kemashlahatan diri & keluarga kita, karena sejatinya apapun yang kita lakukan untuk keluarga akan dimintai pertanggung jawaban di yaumil akhir (hari akhir) kelak di hadapan Allah azza wa jalla. Tuhan kami, Yang Maha kuasa…Maha Agung…Maha Suci. Subhanallah wa bihamdi…

Wallahu’alam.





One day in your life

23 01 2010

Listening : One day in your life – Michael Jackson.

Lagu ini mengalun mengiringi kata demi kata sebagai aspirasi imajinasi, fikiran, kenangan dan harapan di masa lalu. Kata “One day in your life” seolah menjadi satu trigger atau pemicu akan perasaan haru yang saya rasakan saat ini.

One day in your life….One day in my life tepatnya, saya membuat sebuah komitmen-komitmen dalam hidup. Komitmen untuk meninggalkan hidup yang lalu dan komitmen untuk menjalani hidup yang akan datang dengan berbagai tantangan dan hambatan yang ada. Itu tidak mudah.

Kehidupan yang saya jalani saat ini sama sekali tidak terbayang dalam benak saya 1 dekade yang lalu, dimana akan berkutat dengan berbagai perjalanan “belajar” yang terus dijalani hingga saat ini.

Menjadi tua, memiliki studio musik yang lengkap, menikmati hasil kerja dan royalti seni yang di dapat, sukses di dunia musik,  anak-anak tumbuh menjadi orang2 berjiwa seni yang tinggi dll. Itulah sekilas harapan beberapa tahun silam yang berkenaan dengan hobi dan passion saya dalam bermusik.

One day in my life…Semuanya berubah! Switch up to 180 degree. Dan memang seharusnya berubah, setelah nur illahi melingkupi liang imajinasi diri. Saat ini kepala dan hati saya menjadi hambar dan beku apabila melihat berbagai atraksi dunia hiburan yang kerap dilihat. Dunia yang dahulu menjadi sebuah tujuan dan obsesi hidup saya untuk belasan tahun lamanya dengan berbagai usaha untuk meraihnya. Sukses? Entahlah, krn saya bukanlah artis terkenal…yang jelas secara materi saya sudah cukup merasakan “nampolnya” uang hasil jerih payah di dunia tsb yang saya nikmati. Dimana kesuksesan itu sendiri sebenarnya adalah sebuah proses, bukan hasil. Dan saya jalani proses tsb, lengkap 1 paket dengan KEGAGALAN! (Alangkah naifnya pabila seorang memisahkan keduanya, sukses dan gagal)

Kisah dunia Ruhiyah (Ruh)  sebagai sebuah dunia kekal yang abadi tuk dijalani nanti menjadi sebuah dunia yang mengembalikan saya pada suatu hal yang hakiki tuk di dalami, Islam…Keselamatan kita, keselamatan saya.

Kenapa saya bisa berada di sini, menenggak kopi dan berjalan menikmati segala hal yang tersedia dengan indah. Eksistensi saya dipertanyakan oleh saya sendiri, untuk apa semua kebisaan di dunia musik (saat itu) ? apakah untuk tujuan ruhiyah? bisakah menjadi bekal setelah aku meninggal nanti? Bisakah semuanya menemani gelapnya tanah kubur saya nanti? Bisakah semuanya menjadi penolong bagi kehidupan Ruh saya kelak?

Ternyata selain amal ibadah saya selama di dunia ini, bekal itu ada pada “anak yang sholeh/hah, ilmu yang bermanfaat dan sedekah jariyah” dan tidak satupun tercantum dalam petunjuk illahi bahwa bekal tsb ada pada kehebatan saya membuat musik, glamour, tepuk tangan, kebanggaan dan penumpukan harta diri. Naudzubillah mindzalik.

Sebuah bekal amatlah penting bagi perjalanan panjang seseorang, nikmat tidaknya perjalanan kita sangatlah tergantung pada bekal yang kita bawa dengan memperhitungkan waktu perjalanan dan medan perjalanan itu sendiri.One day in my life…saya menyadari itu. Dan saya berubah perlahan…terus hingga saat ini.

Berusaha menjadi imam yang lebih baik bagi anak dan istri saya. Berusaha menjadi mukmin yang kaffah (total) di mata Allah SWT guna mendapatkan ridho’ dan ampunanNya. Berusaha belajar dan terus belajar menjadi insan kamil. Itu tujuan saya saat ini, untuk kehidupan ruhiyah kelak.

One day in my life…malam ini momentum perubahan itu teringat kembali.

Aahhh…andai saya bisa menceritakan semuanya di sini dan menggambarkan kehangatan nur illahi yang menghangatkan saya dan mengaburkan perasaan indahnya dunia, menghambarkan emosi yang dulu saya puja dan nikmati sebagai sebuah obsesi yang ternyata semu.

Ahhh…andai semuanya bisa saya tuangkan dalam tulisan kali ini. Indahnya merasakan hambar akan dunia, merasakan merdunya  alunan firmanMu ya Allah. Merasakan mesranya diriku bersamaMu kala ku renungi makna Al qur’anMu, ya Allah. Merasakan nikmatnya kala telapak tanganku basah oleh tetes-tetes air mata berlumur do’a kepadaMu ya Allah. Merasakan merdunya desah nafas berlinang pujian dalam sujudku kepadaMu ya Allah.

One day in your life…rasakanlah…rasa yang begitu indah!

Subhanallah wa bihamdi…





Ketika Adzan berkumandang

18 01 2010

Sebuah panggilan sekaligus perintah…demikianlah suara adzan yang agung. Saking agungnya, diriwayatkan sebuah hadist tentang adab pada saat mendengar adzan, Rasulullah bersabda : “Hendaklah kamu mendiamkan diri ketika adzan, jika tidak Allah akan kelukan lidahnya ketika maut menghampirinya. “

Ini jelas menunjukkan, kita disarankan agar mendiamkan diri, jangan berkata apa-apa pun semasa adzan berkumandang kecuali membalas kumandangnya satu persatu sesuai yg disyariatkan. Sebagai orang beragama Islam kita wajib menghormati adzan.

Coba bayangkan, saat mendengarkan lagu kebangsaan saja kita musti diam dan berdiri, lah apalagi yg ini, panggilan sang Pencipta kepada kita untuk sejenak bersujud menghadapNya, semestinyalah kita WAJIB berdiam diri, menjawab adzan dan menghormatinya.

Namun…tak semudah dikata, banyak orang yang melalaikan panggilan Sang Rabb untuk sejenak berdiam diri dan melepas keduniaan guna bersujud menyembah Allah SWT.

Coba bayangkan apabila yg mengumandangkan adzan adalah diri anda sendiri…Apa yang anda kumandangkan adalah panggilan terbaik di muka bumi guna memanggil setiap ummat muslim di sekitar panggilan untuk sejenak berwudhu untuk kemudian sholat, menghadap Sang Rabb.

Sholat adalah amal ibadah yang pertama kali akan di hisab di yaumil akhir kelak. Apabila sholat kita tidak berkualitas, maka tak akan bergunalah segala amal ibadah yang lain di dunia ini.

Semoga kita selalu diberkahi oleh Allah untuk menjadi ummat terbaik yang tidak mengabaikan panggilan Adzan dan perintah Sholat.Amien.

Wallahu’alam.





Bersin & Menguap dalam Islam

17 01 2010

Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada 5 (lima), menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, memenuhi undangan dan menjawab orang bersin(HR. al Bukhari dan Muslim, hadits no. 900 pada Tarjamah Riyadush Shalihin).

Sedangkan tata cara berbalas perkataan ketika seseorang yang sedang bersin, juga sudah diatur dalam sebuah hadits dari sahabat Ali bin Abi Thalib;

Dari Ali Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah mengucapkan alhamdulillah, dan hendaknya saudaranya mengucapkan untuknya yarhamukallah. Apabila ia mengucapkan kepadanya yarhamukallah, hendaklah ia (orang yang bersin) mengucapkan yahdiikumullah wa yushlihu balaakum (artinya = Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk dan memperbaiki hatimu).” (Hadits Riwayat Bukhari.)


Menguap adalah gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh.
Dan hal ini terjadi ketika kita sedang kantuk atau pusing, lesu, dan orang yang sedang menghadapi kematian.
Dan menguap adalah aktivitas menghirup udara dalam-dalam melalui mulut, dan bukan mulut dengan cara biasa menarik nafas dalam-dalam !!! Karena mulut bukanlah organ yang disiapkan untuk menyaring udara seperti hidung.

Maka, apabila mulut tetap dalam keadaan terbuka ketika menguap, maka masuk juga berbagai jenis mikroba dan debu, atau kutu bersamaan dengan masuknya udara ke dalam tubuh. Oleh karena itu, datang petunjuk nabawi yang mulia agar kita melawan “menguap” ini sekuat kemampuan kita, atau pun menutup mulut saat menguap dengan tangan kanan atau pun dengan punggung tangan kiri.

Bersin adalah lawan dari menguap yaitu keluarnya udara dengan keras, kuat disertai hentakan melalui dua lubang: hidung dan mulut.
Maka akan terkuras dari badan bersamaan dengan bersin ini sejumlah hal seperti debu, haba’ (sesuatu yang sangat kecil, di udara, yang hanya terlihat ketika ada sinar matahari), atau kutu, atau mikroba yang terkadang masuk ke dalam organ pernafasan. Oleh karena itu, secara tabiat, bersin datang dari Yang Maha Rahman (Pengasih), sebab padanya terdapat manfaat yang besar bagi tubuh. Dan menguap datang dari syaithan sebab ia mendatangkan bahaya bagi tubuh. Dan atas setiap orang hendaklah memuji Allah Yang Maha Suci Lagi Maha Tinggi ketika dia bersin, dan agar meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk ketika sedang menguap

(Lihat Al-Haqa’iq Al-Thabiyah fii Al-Islam: hal 155)





Al Biruni, The Father of Science

16 01 2010
”Dia adalah salah satu ilmuwan terbesar dalam seluruh sejarah manusia.” Begitulah AI Sabra menjuluki Al-Biruni — ilmuwan Muslim serba bisa dari abad ke-10 M.
Bapak Sejarah Sains Barat, George Sarton pun begitu mengagumi kiprah dan pencapaian Al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.Bukan tanpa alasan bila Sarton dan Sabra mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, Al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, Al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.

Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, Al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ — studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Di era keemasan Islam, Al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi.

Selain itu, Al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘Antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, Al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains. Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samanid itu merupakan salah satu pelopor merote saintifik eksperimental.

Dialah ilmuwan yang bertanggung jawab untuk memperkenalkan metode eksperimental dalam ilmu mekanik. Al-Biruni juga tercatat sebagai seorang perintis psikologi eksperimental. Dia juga merupakan saintis pertama yang mengelaborasi eksperimen yang berhubungan dengan fenomena astronomi. Sumbangan yang dicurahkannya untuk pengembangan ilmu pengetahuan sungguh tak ternilai.

Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat.
Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu. Dia juga mengamalkan ilmu yang dikuasainya dengan menjadi seorang guru yang sangat dikagumi para muridnya.

Ilmuwan kondang itu bernama lengkap Abu Rayhan Muhammed Ibnu Ahmad Al-Biruni.
Dia terlahir menjelang terbit fajar pada 4 September 973 M di kota Kath – sekarang adalah kota Khiva – di sekitar wilayah aliran Sungai Oxus, Khwarizm (Uzbekistan). Sejarah masa kecilnya tak terlalu banyak diketahui. Dalam biografinya, Al-Biruni mengaku sama sekali tak mengenal ayahnya, hanya sedikit mengenal tentang kakeknya.

Selain menguasai beragam ilmu pengetahuan, Al-Biruni juga fasih sederet bahasa seperti Arab, Turki, Persia, Sansekerta, Yahudi, dan Suriah. Al-Biruni muda menimba ilmu matematika dan Astronomi dari Abu Nasir Mansur. Menginjak usia yang ke-20 tahun, Al-Biruni telah menulis beberapa karya di bidang sains. Dia juga kerap bertukar pikiran dan pengalaman dengan Ibnu Sina – ilmuwan besar Muslim lainnya yang begitu berpengaruh di Eropa.

Al-Biruni tumbuh dewasa dalam situasi politik yang kurang menentu. Ketika berusia 20 tahun, Dinasti Khwarizmi digulingkan oleh Emir Ma’mun Ibnu Muhammad, dari Gurganj. Saat itu, Al-Biruni meminta perlindungan dan mengungsi di Istana Sultan Nuh Ibnu Mansur. Pada tahun 998 M, Sultan dan Al-Biruni pergi ke Gurgan di Laut Kaspia. Dia tinggal di wilayah itu selama beberapa tahun.

Selama tinggal di Gurgan, Al-Biruni telah menyelesaikan salah satu karyanya yakni menulis buku berjudul The Chronology of Ancient Nations. Sekitar 11 tahun kemudian, Al-Biruni kembali ke Khwarizmi. Sekembalinya dari Gurgan dia menduduki jabatan yang terhormat sebagai penasehat sekaligus pejabat istana bagi penggati Emir Ma’mun. Pada tahun 1017 M, situasi politik kembali bergolak menyusul kematian anak kedua Emir Ma’mun akibat pemberontakan.

Khwarizmi pun diinvasi oleh Mahmud Ghazna pada tahun 1017 M. Mahmud lalu membawa para pejabat Istana Khwarizmi untuk memperkuat kerjaannya yang bermarkas di Ghazna, Afghanistan. AL-Biruni merupakan salah seorang ilmuwan dan pejabat istana yang ikut diboyong. Selain itu, ilmuwan lainnya yang dibawa Mahmud ke Ghazna adalah matematikus, Ibnu Iraq, dan seorang dokter, Ibnu Khammar.

Untuk meningkatkan prestise istana yang dipimpinnya, Mahmud sengaja menarik para sarjana dan ilmuwan ke Istana Ghazna. Mahmud pun melakukan beragam cara untuk mendatangkan para ilmuwan ke wilayah kekuasaannya. Ibnu Sina juga sempat menerima undangan bernada ancaman dari Mahmud agar datang dan mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya di istana Ghazna.

Meski Mahmud terkesan memaksa, namun Al-Biruni menikmati keberadaannya di Ghazna. Di istana itu, dia dihormati dan dengan leluasa bisa mengembangkan pengetahuan yang dikuasainya. Salah satu tugas Al-Biruni adalah menjadi astrolog isatana bagi Mahmud dan penggantinya.

Pada tahun 1017 M hingga 1030 M, Al-Biruni mendapat kesempatan untuk melancong ke India. Selama 13 tahun, sang ilmuwan Muslim itu mengkaji tentang seluk beluk India hingga melahirkan apa yang disebut indologi atau studi tentang India. Di negeri Hindustan itu, Al-Biruni mengumpulkan beragam bahan bagi penelitian monumental yang dilakukannya. Dia mengorek dan menghimpun sejarah, kebiasaan, keyakian atau kepecayaan yang dianut masyarakat di sub-benua India.

Selama hidupnya, dia juga menghasilkan karya besar dalam bidang astronomi lewat Masudic Canon yang didedikasikan kepada putera Mahmud bernama Ma’sud. Atas karyanya itu, Ma’sud menghadiahkan seekor gajah yang bermuatan penuh dengan perak. Namun, Al-Biruni mengembalikan hadiah yang diterimanya itu ke kas negara.

Sebagai bentuk penghargaan, Ma’sud juga menjamin Al-Biruni dengan uang pensiun yang bisa membuatnya tenang beristirahat serta terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Dia juga berhasil menulis buku astrologi berjudul The Elements of Astrology. Selain itu, sang ilmuwan itu pun menulis sederet karya dalam bidang kedokteran, geografi, serta fisika. Al-Biruni wafat di usia 75 tahun tepatnya pada 13 Desember 1048 M di kota Ghazna. Untuk tetap mengenang jasanya, para astronom mengabadikan nama Al-Biruni di kawah bulan.

SUMBANGAN SANG ILMUWAN
* Astronomi

”Dia telah menulis risalah tentang astrolabe serta memformulasi tabel astronomi untuk Sultan Ma’sud,”papar Will Durant tentang kontribusi Al-Biruni dalam bidang astronomi. Selain itu, Al-Biruni juga telah berjasa menuliskan risalah tentang planisphere dan armillary sphere. Al-Biruni juga menegaskan bahwa bumi itu itu berbentuk bulat.
Al-Biruni tercatat sebagai astronom yang melakukan percobaan yang berhubungan dengan penomena astronomi. Dia menduga bahwa Galaksi Milky Way (Bima Sakti) sebagai kupulan sejumlah bintang. Pada 1031 M, dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang berjudul Kitab Al-Qanun Al Mas’udi.

* Astrologi
Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali membedakan istilah astronomi dengan astrologi. Hal itu dilakukannya pada abad ke-11 M. Dia juga menghasilkan beberapa karya yang penting dalam bidang astrologi.

*Ilmu Bumi
Al-Biruni juga menghasilkan sejumlah sumbangan bagi pengembangan Ilmu Bumi. Atas perannya itulah dia dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’. Dia juga memberi kontribusi signifikan dalam kartografi, geografi, geologi, serta mineralogi.

*Kartografi
Kartografi adalah ilmu tentang membuat peta atau globe. Pada usia 22 tahun, Al-Biruni telah menulis karya penting dalam kartografi, yakni sebuah studi tentang proyeksi pembuatan peta.

* Geodesi dan Geografi
Pada usia 17 tahun, Al-Biruni sudah mampu menghitung garis lintang Kath Khawarzmi dengan menggunakan ketinggian matahari. ”Kontribusi penting dalam geodesi dan geografi telah dibuat disumbangkan Al-Biruni. Dia telah memperkenalkan teknik mengukur bumi dan jaraknya menggunakan triangulasi,” papar John J O’Connor dan Edmund F Robertson dalam MacTutor History of Mathematics.

* Geologi
Al-Biruni juga telah menghasilkan karya dalam bidang geologi. Salah satunya, dia menulis tentang geologi India.

* Mineralogi
Dalam kitabnya berjudul Kitab al-Jawahir atau Book of Precious Stones, Al-Biruni menjelaskan beragam mineral. Dia mengklasifikasi setiap mineral berdasarkan warna, bau, kekerasan, kepadatan, serta beratnya.

* Metode Sains
Al-Biruni juga berperan dalam memperkenalkan metode saintifik dalam setiap bidang yang dipelajarinya. Salah satu contohnya, dalam Kitab al-Jamahir dia tergolong ilmuwan yang sangat eksperimental.* Optik
Dalam bidang optik, Al-Biruni termasuk ilmuwan yang pertama bersama Ibnu Al-Haitham yang mengkaji dan mempelajari ilmu optik. Dialah yang pertama menemukan bahwa kecepatan cahaya lebih cepat dari kecepatan suara.

* Antropologi
Dalam ilmu sosial, Biruni didapuk sebagai antropolog pertama di dunia. Ia menulis secara detail studi komparatif terkait antropologi manusia, agama, dan budaya di Timur Tengah, Mediterania, serta Asia Selatan. Dia dipuji sejumlah ilmuwan karena telah mengembangkan antropologi Islam. Dia juga mengembangkan metodelogi yang canggih dalam studi antropologi.

* Psikologi Eksperimental
Al Biruni tercatat sebagai pelopor psikologi eksperimental lewat penemuan konsep reaksi waktu.

* Sejarah
Pada usia 27 tahun, dia menulis buku sejarah yang diberi judul Chronology. Sayangnya buku itu kini telah hilang. Dalam kitab yang ditulisnya Kitab fi Tahqiq ma li’l-Hind atau Penelitian tentang India, Al-Biruni telah membedakan antara menode saintifik dengan metode historis.

* Indologi
Dia adalah ilmuwan pertama yang mengkaji secara khusus tentang India hingga melahirkan indologi atau studi tentang India.

*Matematika
Dia memberikan sumbangan yang signifikan bagi pengembangan matematika, khususnya dalam bidang teori dan praktik aritmatika, bilangan irasional, teori rasio, geometri dan lainnya.

(heri ruslan–republika)

Referensi & Sumber :
http://id.wikipedia.org/wiki/Al-Biruni
http://www.gaulislam.com/al-biruni-ilmuwan-pendiri-tiga-ilmu
http://en.wikipedia.org/wiki/Abu_Rayhan_Biruni





Ibnu Khaldun, Bapak Ekonomi & Sosilogi

10 01 2010
Dunia mendaulatnya sebagai `Bapak Ekonomi & Sosiologi Islam’. Sebagai salah seorang pemikir hebat dan serba bisa sepanjang masa, buah pikirnya amat berpengaruh. Sederet pemikir Barat terkemuka, seperti Georg Wilhelm Friedrich Hegel, Robert Flint, Arnold J Toynbee, Ernest Gellner, Franz Rosenthal, dan Arthur Laffer mengagumi pemikirannya.

Tak heran, pemikir Arab, NJ Dawood menjulukinya sebagai negarawan, ahli hukum, sejarawan dan sekaligus sarjana. Dialah Ibnu Khaldun, penulis buku yang melegenda, Al-Muqaddimah. Ilmuwan besar yang terlahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 atau 1 Ramadhan 732 H itu memiliki nama lengkap Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad Ibn Khaldun Al-Hadrami Al-Ishbili. Nenek moyangnya berasal dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M, setelah semenanjung itu ditaklukan Islam.

Setelah Spanyol direbut penguasa Kristen, keluarga besar Ibnu Khaldun hijrah ke Maroko dan kemudian menetap di Tunisia. Di kota itu, keluarga Ibnu Khaldun dihormati pihak istana dan tinggal di lahan milik dinasti Hafsiah. Sejak terlahir ke dunia, Ibnu Khaldun sudah hidup dalam komunitas kelas atas.

Ibnu Khaldun hidup pada masa peradaban Islam berada diambang degradasi dan disintegrasi. Kala itu, Khalifah Abbasiyah di ambang keruntuhan setelah penjarahan, pembakaran, dan penghancuran Baghdad dan wilayah disekitarnya oleh bangsa Mongol pada tahun 1258, sekitar tujuh puluh lima tahun sebelum kelahiran Ibnu Khaldun.

Guru pertama Ibnu Khaldun adalah ayahnya sendiri. Sejak kecil, ia sudah menghafal Alquran dan menguasai tajwid. Selain itu, dia juga menimba ilmu agama, fisika, hingga matematika dari sejumlah ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Ia selalu mendapatkan nilai yang memuaskan dalam semua bidang studi.

Studinya kemudian terhenti pada 749 H. Saat menginjak usia 17 tahun, tanah kelahirannya diserang wabah penyakit pes yang menelan ribuan korban jiwa. Akibat peristiwa yang dikenal sebagai Black Death itu, para ulama dan penguasa hijrah ke Maghrib Jauh (Maroko).

Ahmad Syafii Maarif dalam bukunya Ibn Khaldun dalam pandangan Penulis Barat dan Timur memaparkan, di usia yang masih muda, Ibnu Khaldun sudah menguasi berbagai ilmu Islam klasik seperti filsafat, tasawuf, dan metafisika. Selain menguasai ilmu politik, sejarah, ekonomi serta geografi, di bidang hukum, ia juga menganut madzhab Maliki.

Sejak muda, Ibnu Khaldun sudah terbiasa berhadapan dengan berbagai intrik politik. Pada masa itu, Afrika Utara dan Andalusia sedang diguncang peperangan. Dinasti-dinasti kecil saling bersaing memperebutkan kekuasaan, di saat umat Islam terusir dari Spanyol. Tak heran, bila dia sudah terbiasa mengamati fenomena persaingan keras, saling menjatuhkan, saling menghancurkan.

Di usianya yang ke-21, Ibnu Khaldun sudah diangkat menjadi sekretaris Sultan Al-Fadl dari Dinasti Hafs yang berkedudukan di Tunisia. Dua tahun kemudian, dia berhenti karena penguasa yang didukungnya itu kalah dalam sebuah pertempuran. Ia lalu hijrah ke Baskarah, sebuah kota di Maghrib Tengah (Aljazair).

Ia berupaya untuk bertemu dengan Sultan Abu Anam, penguasa Bani Marin dari Fez, Maroko, yang tengah berada di Maghrib Tengah. Lobinya berhasil. Ibnu Khaldun diangkat menjadi anggota majelis ilmu pengetahuan dan sekretaris sultan setahun kemudian. Ia menduduki jabatan itu selama dua kali dan sempat pula dipenjara. Ibnu Khaldun kemudian meninggalkan negeri itu setelah Wazir Umar bin Abdillah murka.

Ia kemudian terdampar di Granada pada 764 H. Sultan Bani Ahmar menyambut kedatangannya dan mempercayainya sebagai duta negar di Castilla, sebuah kerajaan Kristen yang berpusat di Seville. Tugasnya dijalankan dengan baik dan sukses. Namun tak lama kemudian, hubungannya dengan Sultan kemudian retak.

Dua tahun berselang, jabatan strategis kembali didudukinya. Penguasa Bani Hafs, Abu Abdillah Muhammad mengangkatnya menjadi perdana menteri sekaligus, khatib dan guru di Bijayah. Setahun kemudian, Bijayah jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, gubernur Qasanthinah (sebuah kota di Aljazair). Ibnu Khaldun lalu hijrah ke Baskarah.

Ia kemudian berkirim surat kepada Abu Hammu, sultan Tilmisan dari Bani Abdil Wad yang isinya akan memberi dukungan. Tawaran itu disambut hangat Sultan dan kemudian memberinya jabatan penting. Iming-iming jabatan itu ditolak Ibnu Khaldun, karena akan melanjutkan studinya secara otodidak. Ia bersedia berkampanye untuk mendukung Abu Hammu. Sikap politiknya berubah, tatkala Abu Hammu diusir Sultan Abdul Aziz.

Ibnu Khaldun kemudian berpihak kepada Abdul Aziz dan tinggal di Baskarah. Tak lama kemudian, Tilmisan kembali direbut Abu Hammu. Ia lalu menyelamatkan diri ke Fez, Maroko pada 774. Saat Fez jatuh ke tangan Sultan Abul Abbas Ahmad, ia kembali pergi ke Granada buat yang kedua kalinya. Namun, penguasa Granada tak menerima kehadirannya.

Ia balik lagi ke Tilmisan. Meski telah dikhianati, namun Abu Hammu menerima kehadiran Ibnu Khaldun. Sejak saat itulah, Ibnu Khaldun memutuskan untuk tak berpolitik praktis lagi. Ibnu Khaldun lalu menyepi di Qa’lat Ibnu Salamah dan menetap di tempat itu sampai tahun 780 H. Dalam masa menyepinya itulah, Ibnu Khaldun mengarang sejumlah kitab yang monumental.

Di awali dengan menulis kitab Al-Muqaddimah yang mengupas masalah-masalah sosial manusia, Ibnu Khaldun juga menulis kitab Al-`Ibar (Sejarah Umum). Pada 780 H, Ibnu Khaldun sempat kembali ke Tunisia. Di tanah kelahirannya itu, ia sempat merevisi kitab Al’Ibar.

Empat tahun kemudian, ia hijrah ke Iskandaria (Mesir) untuk menghindari kekisruhan politik di Maghrib. Di Kairo, Ibnu Khaldun disambut para ulama dan penduduk. Ia lalu membentuk halaqah di Al-Azhar. Ia didaulat raja menjadi dosen ilmu Fikih Mazhab Maliki di Madrasah Qamhiyah. Tak lama kemudian, dia diangkat menjadi ketua pengadilan kerajaan.

Ibnu Khaldun sempat mengundurkan diri dari pengadilan kerajaan, lantaran keluarganya mengalami kecelakaan. Raja lalu mengangkatnya lagi menjadi dosen di sejumlah madrasah. Setelah menunaikan ibadah haji, ia kembali menjadi ketua pengadilan dan kembali mengundurkan diri. Pada 803 H, dia bersama pasukan Sultan Faraj Barquq pergi ke Damaskus untuk mengusir Timur Lenk, penguasa Mogul.

Berkat diplomasinya yang luar biasa, Ibnu Khaldun malah bisa bertemu Timur Lenk yang dikenal sebagai penakluk yang disegani. Dia banyak berdiskusi dengan Timur. Ibnu Khaldun, akhirnya kembali ke Kairo dan kembali ditunjuk menjadi ketua pengadilan kerajaan. Ia tutup usia pada 25 Ramadhan 808 H di Kairo. Meski dia telah berpulang enam abad yang lalu, pemikiran dan karya-karyanya masih tetap dikaji dan digunakan hingga saat ini.

AL MUQADDIMAH, SEBUAH KARYA ABADI

Setelah mundur dari percaturan politik praktis, Ibnu Khaldun bersama keluarganya menyepi di Qal’at Ibn Salamah istana yang terletak di negeri Banu Tajin selama empat tahun. Selama masa kontemplasi itu, Ibnu Khaldun berhasil merampungkan sebuah karya monumental yang hingga kini masih tetap dibahas dan diperbincangkan.

`’Dalam pengunduran diri inilah saya merampungkan Al-Muqaddimah, sebuah karya yang seluruhnya orisinal dalam perencanaannya dan saya ramu dari hasil penelitian luas yang terbaik,” ungkap Ibnu Khaldun dalam biografinya yang berjudul Al-Ta’rif bi Ibn-Khaldun wa Rihlatuhu Gharban wa Sharqan.

Buah pikir Ibnu Khaldun itu begitu memukau. Tak heran, jika ahli sejarah Inggris, Arnold J Toynbee menganggap Al-Muqaddimah sebagi karya terbesar dalam jenisnya sepanjang sejarah.

Menurut Ahmad Syafii Ma’arif, salah satu tesis Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah yang sering dikutip adalah: `’Manusia bukanlah produk nenek moyangnya, tapi adalah produk kebiasaan-kebiasaan sosial.” Secara garis besar, Tarif Khalidi dalam bukunya Classical Arab Islam membagi Al-Muqaddimah menjadi tiga bagian utama .

Pertama, membicarakan histografi mengupas kesalahan-kesalahan para sejarawan Arab-Muslim.
Kedua, Al-Muqaddimah mengupas soal ilmu kultur. Bagi Ibnu Khaldun, ilmu tersebut merupakan dasar bagi pemahaman sejarah.
Ketiga, mengupas lembaga-lembaga dan ilmu-ilmu keislaman yang telah berkembang sampai dengan abad ke-14. Meski hanya sebagai pengantar dari buku utamanya yang berjudul Al-`Ibar, kenyataannya Al-Muqaddimah lebih termasyhur.

Pasalnya, seluruh bangunan teorinya tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah termuat dalam kitab itu. Dalam buku itu Ibnu Khaldun diantara menyatakan bahwa kajian sejarah haruslah melalui pengujian-pengujian yang kritis.

`’Di tangan Ibnu Khaldun, sejarah menjadi sesuatu yang rasional, faktual dan bebas dari dongeng-dongeng,” papar Syafii Ma’arif. Bermodalkan pengalamannya yang malang-melintang di dunia politik pada masanya, Ibnu Khaldun mampu menulis Almuqaddimah dengan jernih. Dalam kitabnya itu, Ibnu Khaldun juga membahas peradaban manusia, hukum-hukum kemasyarakatan dan perubahan sosial.

Menurut Charles Issawi dalam An Arab Philosophy of History, lewat Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang menyatakan dengan jelas, sekaligus menerapkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar sosiologi. Salah satu prinsip yang dikemukakan Ibnu Khaldun mengenai ilmu kemasyarakatan antara lain; `’Masyarakat tidak statis, bentuk-bentuk soisal berubah dan berkembang.”

Pemikiran Ibnu Khaldun telah memberi pengaruh yang besar terhadap para ilmuwan Barat. Jauh, sebelum Aguste Comte pemikir yang banyak menyumbang kepada tradisi keintelektualan positivisme Barat metode penelitian ilmu pernah dikemukakan pemikir Islam seperti Ibnu Khaldun (1332-1406).

Dalam metodeloginya, Ibnu Khaldun mengutamakan data empirik, verifikasi teoritis, pengujian hipotesis, dan metode pemerhatian. Semuanya merupakan dasar pokok penelitian keilmuan Barat dan dunia, saat ini. `’Ibnu Khaldun adalah sarjana pertama yang berusaha merumuskan hukum-hukum sosial,” papar Ilmuwan asal Jerman, Heinrich Simon.

KONSEP EKONOMI IBNU KHALDUN

Ibnu Khaldun juga banyak memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu ekonomi. Tak heran, bila dia juga dijuluki sebagai `Bapak Ekonomi’.
Gagasan dan pemikiran tentang ekonomi Ibnu Khaldun telah mengilhami sejumlah ekonom terkemuka. Empat abad setelah Ibnu Khaldun berpulang, pemikirannya tentang ekonomi muncul kembali melalui Adam Smith serta David Ricardo.

Setelah itu, Karl Marx serta John Maynard Keynes juga banyak menyerap pemikiran Ibnu Khaldun. Salah satu pengaruh pemikiran Ibnu Khaldun yang diadopsi Karl Marx antara lain, mengenai dialektika yang saling mempengaruhi antara pemikiran dan dasar material. Selain itu, mengenai beberapa cara spesifik variabel ekonomi, khususnya dengan peran tenaga kerja dalam hubungan sosial.

Ibnu Khaldun begitu menghormati tenaga kerja sebagai salah satu dari dasar utama masyarakat dan diskusi tentang profit sebagai nilai yang didapat dari pekerjaan manusia. Pemikiran ekonomi Ibnu Khaldun menggabungkan hablum minallah dan hablum minnanas.

Ia mendefinisikan ekonomi secara sosial sebagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh interaksi sosial dan sebaliknya mereka mempengaruhinya. Prespektif tersebut digunakan Ibn Khaldun dalam menganalisis nilai pekerja manusia, dalam arti mata pencaharian dan stratifikasi ekonomi sosial. Ibnu Khaldun juga berpendapat bahwa organisasi sosial adalah ’sesuatu yang diperlukan’ bagi usaha manusia dan keinginannya untuk hidup dan bertahan hidup ‘dengan bantuan makanan’. Untuk mencapai tujuan ini kemampuan individu saja tidaklah cukup.

Dalam Al-Muqqadimah, Ibnu Khaldun juga memberikan keutamaan, bukan eksklusif, posisi faktor ekonomi dalam sejarah. Aktivitas intelektual dari manusia, seni dan ilmu pengetahuan, sikap dan perilaku moralnya, gaya hidup dan selera, standar kehidupan dan adat didefinisikan Ibnu Khaldun melalui derajat atau tingkatan produksi.

Sumber : Republika Online

Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Khaldun
http://en.wikipedia.org/wiki/Muqaddimah
http://www.republika.co.id/berita/34525/Ibnu_Khaldun_Peletak_Dasar_Sosiologi_Islam





Jabir Ibn Hayyan (Geber), Bapak Kimia Dunia

3 01 2010

Seorang tokoh besar yang dikenal sebagai “the father of modern chemistry”.
Jabir Ibn Hayyan (keturunan Arab, walaupun sebagian orang menyebutnya keturunan Persia), merupakan seorang muslim yang ahli dibidang kimia, farmasi, fisika, filosofi dan astronomi.

Jabir Ibn Hayyan (yang hidup di abad ke-7) telah mampu mengubah persepsi tentang berbagai kejadian alam yang pada saat itu dianggap sebagai sesuatu yang tidak dapat diprediksi, menjadi suatu ilmu sains yang dapat dimengerti dan dipelajari oleh manusia.

Penemuan-penemuannya di bidang kimia telah menjadi landasan dasar untuk berkembangnya ilmu kimia dan tehnik kimia modern saat ini.

Jabir Ibn Hayyan-lah yang menemukan asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi dan tehnik kristalisasi. Dia juga yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.

Jabir Ibn Hayyan mampu mengaplikasikan pengetahuannya di bidang kimia kedalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dia jugalah yang pertama mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca.

Jabir Ibn Hayyan juga pertama kali mencatat tentang pemanasan wine akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Hal inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.

Jika kita mengetahui kelompok metal dan non-metal dalam penggolongan kelompok senyawa, maka lihatlah apa yang pertamakali dilakukan oleh Jabir. Dia mengajukan tiga kelompok senyawa berikut:
1) Spirits yang menguap ketika dipanaskan, seperti camphor, arsen dan amonium klorida.
2) Metals seperti emas, perak, timbal, tembaga dan besi; dan
3) Stonesyang dapat dikonversi menjadi bentuk serbuk.

Salah satu pernyataannya yang paling terkenal adalah:

“The first essential in chemistry, is that you should perform practical work and conduct experiments, for he who performs not practical work nor makes experiments will never attain the least degree of mastery.”

Pada abad pertengahan, penelitian-penelitian Jabir tentang Alchemy diterjemahkan kedalam bahasa Latin, dan menjadi textbook standar untuk para ahli kimia eropa. Beberapa diantaranya adalah Kitab al-Kimya (diterjemahkan oleh Robert of Chester – 1144) dan Kitab al-Sab’een (diterjemahkan oleh Gerard of Cremona – 1187). Beberapa tulisa Jabir juga diterjemahkan oleh Marcelin Berthelot kedalam beberapa buku berjudul: Book of the Kingdom, Book of the Balances dan Book of Eastern Mercury. Beberapa istilah tehnik yang ditemukan dan digunakan oleh Jabir juga telah menjadi bagian dari kosakata ilmiah di dunia internasional, seperti istilah “Alkali”, dsb.

ABU MUSA JABIR IBN HAYYAN (GEBER)

Ilmu kimia kini telah berkembang begitu pesat. Barat mampu mengembangkan ilmu tersebut untuk meraih berbagai
kemajuan. Meski sebenarnya, pada mulanya ilmu kimia dirintis oleh putra terbaik Islam dalam bidang tersebut, yaitu Abu
Musa Jabir Ibn Hayyan
, yang di negeri Barat lebih akrab dipanggil dengan sebutan Ibnu Geber. Jabir lahir pada 766 M di Kuffah, Irak. Ayahnya adalah ahli obat. Ia pernah mendapatkan bimbingan dari Imam Ja’far Sadiq dan seorang pangeran
dari Bani Ummayah, Khalid Ibn Yazid.

Dalam usia yang belia, ia telah menguasai ilmu pengobatan dengan bimbingan gurunya, Barmaki Vizir yang hidup pada zaman Dinasti Abbasiyah di bawah kekuasaan Harun Al-Rasyid. Ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Dalam melakukan berbagai eksperimen ia menggunakan instrumen yang dibuatnya sendiri, yang berasal dari logam, tumbuhan, dan hewan. Setelah beberapa lama di Damaskus, kemudian ia kembali ke tanah kelahirannya, Kuffah.

Berbagai eksperimen telah ia lakukan menggunakan teknik yang menakjubkan dalam bidang kimia yang kini menjadi dasar dalam mengembangkan ilmu kimia modern. Di antaranya adalah kristalisasi, distilisasi/penyulingan, kalsinasi, dan sublimasi.

Jabir ibnu Hayyan juga membuat instrumen pemotong, pelebur, dan pengkristal. Jabir menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan,pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, dan pemurnian.

Ia juga meletakkan dasar teori oksidasi-reduksi, selain juga sematan atau fiksasi, dan amalgamasi., dan oksidasi-reduksi. Semua teknik yang digunakan kala itu kemudian menjadi dasar pengembangan kimia modern.

Khusus mengenai kalsinasi dan reduksi ia menyatakan bahwa untuk mengembangkan kedua dasar ilmu itu, pertama yang harus dilakukan adalah mendata kembali dengan metoda-metoda yang lebih sempurna, yakni metoda penguapan, sublimasi, destilasi, penglarutan, dan penghabluran. Langkah selanjutnya adalah memodifikasi dan mengoreksi teori Aristoteles mengenai dasar logam, yang tetap tidak berubah sejak awal abad ke 18 M. Dalam setiap karyanya, Jabir melaluinya dengan terlebih dahulu melakukan riset dan eksperimen. Jabir juga telah memberikan sumbangan besar di
dunia kimia dengan menemukan mineral dan asam lainnya.

Terlepas dari kontribusinya meletakkan dasar ilmu kimia, termasuk secara luas mempersiapkan senyawa baru dan mengembangkan metode kimia, ia juga mengembangkan sejumlah proses kimia terapan. Tak heran jika kemudian ia menjadi pionir dalam ilmu terapan. Pencapaian Jabir dalam bidang ini adalah pengembangan logam, besi, penggunaan mangan dioksida dalam pembuatan gelas, mencegah karat, pelapisan emas. Ia pun mampu mempermudah dan membuat proses distilasi lebih sistematik Meski secara pesat Jabir menjadi pionir dalam bidang kimia, ia tak berhenti untuk mengembangkan ilmunya. Ia kemudian mengembangkan sebuah teori yang disebut teori keseimbangan.

Para ahli kimia modern menyatakan bahwa teori tersebut menjadi terobosan baru dalam prinsip dan praktik kimia. Dalam teorinya tersebut Jabir berusaha mengkaji keseimbangan kimiawi yang ada di dalam suatu interaksi zat-zat berdasarkan sistem numerologi, yang merupakan studi makna mistis dari sesuatu dan pengaruhnya atas hidup manusia, yang ia terapkan dalam kaitan dengan alfabet 28 huruf Arab untuk memperkirakan proporsi alamiah dari produk sebagai hasil dari reaktan yang bereaksi. Teori ini memiliki arti esoterik, karena kemudian menjadi pendahulu penulisan jalannya reaksi
kimia. Melalui teori ini kemudian terurailah proses pembuatan asam anorganik.

Di antaranya adalah hasil penyulingan tawas, amonia khlorida, potasium nitrat dan asam sulferik. Pelbagai jenis asam diproduksi pada kurun waktu eksperimen kimia yang merupakan bahan material berharga untuk beberapa proses industrial. Penguraian beberapa asam terdapat di dalam salah satu manuskripnya berjudul Sandaqal Hikmah atau rongga dada kearifan. Berdasarkan penelitian terhadap peralatan yang ditemukan di laboratorium milik Jabir yang telah runtuh, ia rupanya telah mengelompokkan perumusan tiga tipe berbeda dari zat kimia berdasarkan unsur-unsurnya.

Pertama adalah air yang mempengaruhi penguapan pada proses pemanasan, seperti pada bahan camphor, arsenik dan amonium klorida. Kedua adalah logam seperti pada emas, perak, timah, tembaga, besi, dan ketiga adalah senyawa yang dapat dikonversi menjadi semacam bubuk. Buku-buku karangannya, telah pula diterjemahkan ke dalam bahasa latin dan
berbagai bahasa Eropa. Terjemahan atas karyanya begitu terkenal di Eropa dan dalam beberapa abad lamanya menjadi rujukan dalam mengembangkan ilmu kimia. Dan sejumlah istilah teknis yang dikenalkan oleh Jabir, seperti alkali, hingga sekarang telah diadopsi ke dalam bahasa Eropa dan menjadi perbendaharaan kata ilmiah di dunia.

Di antara buku yang terkenal dan menjadi rujukan di Eropa adalah Kitab Al-Kimya dan Kitab Al-Sab’een, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Terjemahan Kitab Al-Kimya kemudian diterbitkan ilmuwan Inggris, Robert Chester pada 1444, dengan judul The Book of the Composition of Alchemy sedangkan Kitab Al-Sab’een diterjemahkan oleh Gerard Cremona. Pada 1678, seorang Inggris lainnya, Richard Russel, mengalihbahasakan karya Jabir yang lain dengan judul Summa of Perfection. Buku ini menjelaskan mengenai sebuah reaksi kimia, air raksa (merkuri) dan belerang (sulfur) bersatu membentuk satu produk tunggal, tetapi adalah salah menganggap bahwa produk ini sama sekali baru dan merkuri serta sulfur berubah keseluruhannya secara lengkap.

Yang benar adalah bahwa keduanya mempertahankan karakteristik alaminya, dan segala yang terjadi adalah sebagian dari kedua bahan itu berinteraksi dan bercampur, sedemikian rupa sehingga tidak mungkin membedakannya secara seksama. Jika dihendaki memisahkan bagian-bagian terkecil dari dua kategori itu oleh instrumen khusus, maka akan tampak tiap elemen (unsur) mempertahankan karakteristik teoretisnya. Hasilnya adalah suatu kombinasi kimiawi antara unsur yang terdapat dalam keadaan keterkaitan permanen tanpa perubahan karakteristik masing-masing unsur.

Berbeda dengan pengarang sebelumnya, Richard lah yang pertama kali menyebut Jabir dengan sebutan Geber, dan memuji Jabir sebagai seorang pangeran Arab dan filsuf. Buku ini kemudian menjadi sangat populer di Eropa selama beberapa abad lamanya. Dan telah pula memberi pengaruh pada evolusi ilmu kimia modern. Karya lainnya yang telah diterbitkan adalah Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.

Seluruh karya Jabir ibn Hayyan lebih dari 500 studi kimia, tetapi hanya beberapa yang sampai pada abad pertengahan. Jabir Ibn Hayyan meninggal pada 803 M di Kuffah. Namun namanya tetap harum sebagai ilmuwan Muslim yang berprestasi tinggi hingga kini.

( fer/berbagai sumber )
Sumber: Republika Online & Chem-is-try.org





Tahun baru 1431 H…2010 M = Sisa hidup

1 01 2010

Banyak tulisan renungan akhir tahun di hamparan dunia maya ini.

Ada yg penuh harap dgn resolusi baru, ada yg menyesali perbuatannya di tahun lalu bahkan ada juga yang harus berbuat, dia tidak tahu!

Apapun itu, saya lebih suka menganggap semua peluang untuk berharap, berhasil, bermimpi dan berusaha kelak…adalah sebuah peluang dari sisa hidup kita yang masih diberikan kepada kita.

Ada yg bilang “hidup gw mah mengaliiiiiiir aja kayak air, follow the flow….”

Lalu pertanyaan menggelitik dari saya “mengalir kemana mas/mbak ? Kalo ke comberan gimana? Hehehe ^_^ ”
Semoga ndak yah, karena seyogyanya kita diberikan hati dan akal untuk berfikir dan menimbang tujuan hidup ini kedepannya.

Allah Azza wa jalla (Maha Perkasa & Maha Agung   -red), Tuhan saya…sang Maha Pencipta, menuliskan sebuah visi dan misi, tujuan adanya kehidupan kita dan adanya kita di dunia ini dalam firmannya sbb:

“Dan tidak Aku ciptakan Jin & Manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku” (Ad-Dzariyat : 56).

Nah, kalau visi dan misi keberadaan kita di dunia ini cukup dipahami oleh kita sebagai pembawa misi, mestinya khan ndak ada pernyataan “hidup gw mah mengalir aja, kayak air…follow the flow…”

Implementasi firman Allah tsb gimana ? Aktualisasinya ? kira-kira menurut saya seperti ini :
Tidak diperbolehkan saya berada di kantor untuk bekerja, KECUALI untuk tujuan beribadah kepada Allah
Tidak diperbolehkan saya berumah tangga, KECUALI untuk tujuan beribadah kepada Allah
Tidak diperbolehkan saya mencari ilmu, KECUALI untuk tujuan beribadah kepada Allah
Tidak diperbolehkan saya mencintai seseorang, KECUALI untuk tujuan beribadah kepada Allah
Tidak diperbolehkan saya melakukan aktifitas apapun, KECUALI untuk tujuan beribadah kepada Allah

Jangankan urusan hidup, urusan karir saja kita di tuntut untuk mempunya visi dan misi kedepan, biasanya di ukur dalam periode quartal per 3 bulan atau tahunan.

Sementara karir itu sendiri adalah bagian dari hidup. Jadi semestinya tujuan hidup kita, haruslah lebih besar dari tujuan karir. Sampai disini, setuju khan? Hehe ^_^

Pertanyaannya, apakah kita bisa memprediksi karir kita ?
Iya ! Sangat bisa ! Kalau kita staff, tahun depan insya Allah kita bisa jadi supervisor, lalu manager dst.
Apakah kita bisa memprediksi keuntungan bisnis kita ?
Tentu ! Itulah gunanya ilmu matematika dalam bisnis, bukan?

Pertanyaan selanjutnya…
APAKAH KITA BISA MEMPREDIKSI USIA KITA ?
Oleh karenanya, saya sebut waktu yang akan datang adalah “Sisa hidup kita”. Entah berapa sisanya, setahun…sebulan…sehari…atau bahkan dalam hitungan jam.
Allah Azza wa jalla, Tuhan saya yg saya sembah adalah yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu, utamanya bagi saya yang dhoif (lemah) ini sebagai hambanya.

Trus gimana caranya kita memperpanjang usia kita ?
Mudah kok ! Bahkan double gardan, krn bukan Cuma usia yg dipanjangkan melainkan juga rizki kita di perbanyak, dijamin!

Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang ingin dipanjangkan usianya dan dibanyakkan rizkinya, hendaklah ia menyambung persaudaraan (tali silaturahmi) ”(H.R. Bukhari dan Muslim).

So…?

Pada sisa hidup di dunia ini, saya pribadi lebih menyukai berkenalan dengan banyak orang baru dan menjaga tali silaturahmi dengan saudara2, handai taulan dan kerabat saya untuk tujuan hidup yang satu itu, umur & rizki!

Pada sisa hidup di dunia ini , saya berdo’a untuk keselamatan di dunia dan akhirat kelak.
Pada sisa hidup di dunia ini, makin menyadari bahwa dunia hanyalah jembatan, tidak semestinya kita membuat rumah di jembatan krn sedianya rumah abadi adalah pilihan kita sejak kini, Syurgakah? Nerakakah? Kita memilihnya dan bertindak atas pilihan tsb, SEKARANG!

Pada sisa hidup di dunia ini, kita masih bisa memilih, memperbaiki diri secara rukhiyah, mendidik anak sebagai bekal, menambah amal ibadah, meminta ini itu kepada Allah Azza wa Jalla.

Karena kalau sisa hidup ini habis, tidak ada lagi kesempatan untuk memilih, memperbaiki, bermimpi, mendidik, menambah amal, bahkan kita sudah tidak bisa lagi meminta ini itu kepada Tuhan kita…HABISLAH KITA !

Tahun baru 1431 H…2010 M…adalah sisa hidup kita satu tahun kedepan. Ingat…SISA ! Agar kita mempergunakan waktu sebaik-baiknya untuk kehidupan ruh kita kelak.

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (QS : Al Baqarah [2] 45-46).





Ibnu Sina, Bapak Kedokteran dunia

28 12 2009

Dialah yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya.

Dunia Islam memanggilnya dengan nama Ibnu Sina. Namun di kalang an orangorang Barat, ia dikenal dengan panggil an Avicenna. Ia merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter pada abad ke-10. Selain itu, Ia juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif.

Dan sebagian besar karyanya adalah tentang filsafat dan pengobatan. Bagi banyak orang, Ibnu Sina adalah Bapak Pengobatan Modern. Selain itu, masih banyak lagi sebutan lainnya yang ditujukan padanya, terutama berkaitan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib atau The Canon of Medicine yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 H/ 980 M di Afsyanah, sebuah kota kecil di wilayah Uzbekistan saat ini. Ayahnya yang berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M).

Sejak kecil, Ibnu Sina sudah menunjukkan kepandaian yang luar biasa. Di usia 5 tahun, ia telah belajar menghafal Alquran. Selain menghafal Alquran, ia juga belajar mengenai ilmu-ilmu agama. Ilmu kedokteran baru ia pelajari pada usia 16 tahun. Tidak hanya belajar mengenai teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit dan melalui perhitungannya sendiri, ia juga menemukan metode-metode baru dari perawatan.

Profesinya di bidang kedokteran dimulai sejak umur 17 tahun. Kepopulerannya sebagai dokter bermula ketika ia berhasil menyembuhkan Nuh bin Mansur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Banyak tabib dan ahli yang hidup pada masa itu tidak berhasil menyembuhkan penyakit sang raja.

Sebagai penghargaan, sang raja meminta Ibnu Sina menetap di istana, paling tidak untuk sementara selama sang raja dalam proses penyembuhan. Tapi Ibnu Sina menolaknya dengan halus, sebagai gantinya ia hanya meminta izin untuk mengunjungi sebuah perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Siapa sangka, dari sanalah ilmunya yang luas makin bertambah.

Ibnu Sina selain terkenal sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama dan kedokteran, ia juga ahli dalam bidang matematika, logika, fisika, geometri, astronomi, metafisika dan filosofi. Pada usia 18 tahun, Ibnu Sina memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan.

Tak hanya itu, ia juga mendalami masalah-masalah fikih dan menafsirkan ayat-ayat Alquran. Ia banyak menafsirkan ayat-ayat Alquran untuk mendukung pandangan-pandangan filsafatnya.

Ketika Ibnu Sina berusia 22 tahun, ayahnya meninggal. Setelah kematian ayahnya ia mulai berkelana, menyebarkan ilmu dan mencari ilmu yang baru. Tempat pertama yang menjadi tujuannya setelah hari duka itu adalah Jurjan, sebuah kota di Timur Tengah. Di sinilah ia bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni. Ia kemudian berguru kepada Al-Biruni.

Setelah itu Ibnu Sina melanjutkan lagi perjalanannya untuk menuntut ilmu. Rayy dan Hamadan adalah kota selanjutnya, sebuah kota dimana karyanya yang spektakular Qanun fi Thib mulai ditulis. Di tempat ini pula Ibnu Sina banyak berjasa, terutama pada raja Hamadan. Seakan tak pernah lelah, ia melanjutkan lagi pengembaraannya, kali ini daerah Iran menjadi tujuannya. Di sepanjang jalan yang dilaluinya itu, banyak lahir karya-karya besar yang memberikan manfaat besar pada dunia ilmu kedokteran khususnya.

Tentu tak berlebihan bila Ibnu Sina mendapat julukan Bapak Kedokteran Dunia. Karena perkembangan dunia kedokteran awal tidak bisa terlepas dari nama besar Ibnu Sina. Ia juga banyak menyumbangkan karya-karya asli dalam dunia kedokteran. Dalam Qanun fi Thib misalnya, ia menulis ensiklopedia dengan jumlah jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan. Ia juga orang yang memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, dan ini dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya.

Ibnu Sina pula yang mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap untuk pertama kalinya. Dan dari sana ia berkesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan.

Ia adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa berada kaitan dan saling mendukung. Lebih khusus lagi, ia mengenalkan dunia kedokteran pada ilmu yang sekarang diberi nama pathology dan farmasi, yang menjadi bagian penting dari ilmu kedokteran. Selain The Canon of Medicine, ada satu lagi kitab karya Ibnu Sina yang tak kalah dahsyatnya. Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini.

Sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasan latin, kitab ini di kenal dengan nama Sanati.

Ibnu Sina wafat pada tahun 428 H/1037 M di kota Hamdan, Iran. Beliau pergi setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia. Hampir sebelas abad sudah Ibnu Sina meninggalkan kita, tapi ilmu dan karyanya sampai sekarang masih berguna.

Mendapat banyak gelar
Kebesaran nama Ibnu Sina terlihat dari beberapa gelar yang diberikan orang kepadanya. Di bidang filsafat ia mendapat gelar asy-Syaikh ar-Rais (Guru Para Raja). Dalam bidang filsafat, ia memiliki pemikiran keagamaan yang mendalam. Pemahamannya mempengaruhi pandangan filsafatnya.

Ketajaman pemikiran dan keda -laman keyakinan keagamaannya seca ra simultan mewarnai alam pikirannya. Ibnu Rusyd menyebutnya sebagai seorang yang agamis dalam berfilsafat. Sementara Al-Ghazali menjulukinya sebagai filsuf yang terlalu banyak berpikir.

Seperti pendahulunya, al-Farabi (870-950 M), Ibnu Sina mengakui bahwa alam diciptakan secara emanasi (memancar dari Tuhan). Tuhan menciptakan alam dalam arti memancarkannya. Ia juga mengemuka kan pemikiran filsafat tentang jiwa (annafs) dan kenabian. Ibnu Sina berpendapat bahwa nabi adalah manusia terunggul dan pilihan Tuhan. Filsuf hanya dapat menerima ilham, sedangkan nabi menerima wahyu. Oleh karena itu, ajaran nabi harus menjadi pedoman hidup manusia.

Di bidang kedokteran ia mendapat julukan Pangeran Para Dokter dan Raja Obat. Banyak para pembesar negeri pada masa itu yang mengundangnya untuk memberikan pengobatan. Para pembesar negeri tersebut di antaranya Ratu Sayyidah serta Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadan, dan Alaud Dawla dari Isfahan. Karenanya dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai puncah atau Bapak ilmu kedokteran.

Bukan hanya dalam filsafat dan kedokteran saja Ibnu Sina memberikan andil dan pemikirannya. Ia juga turut serta ambil bagian dan memberikan andil pada berbagai ilmu pengetahuan pada zamannya, di antaranya yang menonjol adalah ilmu astronomi. Ibnu Sina menambahkan dalam bukunya al-Magest (buku tentang astronomi) berbagai problem yang belum dibahas, mengajukan beberapa keberatan Euclides, meragukan pandangan Aristoteles tentang kesamaan bintang-bintang tak bergerak, kesamaan satuan jaraknya, dan sebagainya. Untuk itu di dalam buku Asy-Syifa, ia menguraikan bahwa bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada pada satu globe.

Ibnu Sina juga banyak membuat rumusan-rumusan tentang pembentukan gunung-gunung, barang-barang tambang, di samping menghimpun berbagai analisis tentang fenomena atmosfer, seperti angin, awan, dan pelangi. Sementara orang yang sezaman dengannya tidak mampu menambahkan sesuatu ke dalam bidang penelitian mereka.

Karya Sang Dokter

Sepanjang hayatnya, Ibnu Sina banyak menu lis berbagai macam karya yang berkaitan dengan bidang yang ditekuninya. Jumlahnya mencapai 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun risalah.

Karya-karyanya itu antara lain :
Qanun fi Thib
Kitab ini ditulis ketika ia menuntut ilmu di Rayy dan Hamadan. Qanun fi Thib yang dalam bahasa Inggris telah diterjemahkan dengan nama The Canon of Medicine, berisi tentang berbagai macam cara penyembuhan dan obat-obatan. Didalamnya tertulis jutaan item tentang pengobatan dan oabt-obatan. Karena itu, ada pula yang menamakan kitabnya ini sebagai Ensiklopedia Pengobatan.

Al-Magest
Buku ini berkaitan dengan bidang astronomi. Diantara isinya, bantahan terhadap pandangan Euclides, serta meragukan pandangan Aristoteles yang menyamakan bintang-bintang tak bergerak. Menurutnya, bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe.

Asy-Syifa
Dalam buku Asy-Syifa ini, Ibnu Sina juga menuliskan tentang masalah penyakit dan pengobatan sekaligus obat yang dibutuhkan berkaitan dengan penyakit bersangkutan. Sama seperti Qanun fi Thib, kitab Asy-Syifa ini juga dikenal dalam dunia kedokteran sebagai Ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Kitab ini terdiri dari 18 jilid.

De Conglutineation Lagibum
Kitab ini ditulis dalam bahasa latin, yang membahas tentang masalah penciptaan alam. Diantaranya tentang asal nama gunung. Menurutnya, kemungkinan gunung tercipta karena dua sebab. Pertama, menggelembungnya kulit luar bumi lantaran goncangan hebat gempa. Dan kedua, karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses itu mengakibatkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan
bumi. sya/dia/taq

Sumber : Republika Online

Referensi tentang Ibnu Sina lainnya : http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Sina